SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA KLASIK DAN MASA PERTENGAHAN

27 03 2012

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….    2

 

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………     3

 

BAB I.  PENDAHULUAN ……………………………………….……………………     4

 

  1. LATAR BELAKANG ………………………………………………………     4
  2. RUMUSAN MASALAH ……………………………………………………     4
  3. TUJUAN ……………………………………………………………………     4

 

BAB II.  PEMBAHASAN ……………………………………………………………..      5

 

            SEJARAH PERADABAN ISLAM …………………………………………….    5

 

  1. MASA KLASIK ………………………………………………….…     6

Masa Khulafa Al-Rasyidin ……………………………………….     8

  1. Masa Khalifah Abu Bakar ………………………………..     8
  2. Masa Khalifah Umar ibn Khattab ……………………….     9
  3. Masa Khalifah Usman ibn Affan ………………………..     10
  4. Masa khalifah Ali ibn Abi Thalib  ……………………….      10

 

  1. MASA PERTENGAHAN …………………………………………      13

Masa Masa Dinasti Umayyah dan Abasiyah …………………      13

  1. Khilafah Bani Umayyah …………………………………      13
  2. Khilafah Bani Abbas ……………………………………..      17
  3. Masa Disintegrasi ………………………………………..       23

 

BAB III. KESIMPULAN ………………………………………………………………       27

 

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….…     29

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

SEJARAH PERADABAN ISLAM

 

Kata peradaban (al-hadharat, civilisation) seringkali didentikkan dengan katakebudayaan (al-tsaqafah, culture). Dalam bahasa Arab, selain disebut sebagai al- hadharat, peradaban terkadang juga disebut dengan al-tamaddun. Karena itu tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civilsociety. Peradaban mencakup aspek material maupun immaterial. Aspek material dicontohkan oleh piramida dan patung Spinx Mesir, istana Al-Hamra, kastil Eropa abad pertengahan, atau gedung WTC yang telah runtuh, sementara aspek immaterial dicontohkan oleh ajaran Islam,ajaran Budha, filsafat Yunani, konfusianisme, kapitalisme, atau sosialisme.

 

Manusia adalah makhluk yang berakal (al-hayawan al nathiq), sehingga ia mampu berpikir secara progresif dalam membentuk peradabannya. Manusia telah bergerak secara progresif dari jaman batu ke jaman logam, sampai akhirnya ke jaman silikon. Setiap jaman dimana manusia hidup mesti memiliki peradabannya sendiri-sendiri. Kecanggihan peradaban tidaklah bisa dinilai secara absolut. Suatu peradaban manusia bisa jadi sangat canggih pada masanya, namun ternyata dinilai kuno oleh generasi sesudahnya. Demikianlah seterusnya, baik dalam aspek material maupun immaterial. Dalam aspek material, kaum Aad, kaumtsanud, dan bangsa mesir Fir’aun telah mampu membangun gedung-gedung tinggi dan kokoh,sebagaimana manusia saat ini telah mampu membangun gedung-gedung pencakar langit.

 

Sejauh yang dicatat oleh sejarah, kebudayaan atau peradaban besar telah muncul di Cina, India, Babilonia, Mesopotamia, Yunani, Inka, Persia, Romawi, Arab, dan Eropa. Jadi, peradaban besar telah muncul baik di timur (Cina, India, Babilonia,Mesopotamia, Persia, dan Arab) maupun di barat (Yunani, Inka, Eropa). Dalam segi peradaban umat manusia, Islam telah hadir lengkap dengan nilai-nilaiuniversalnya, dalam upaya memberikan pencerahan terhadap umat manusia pada kurun waktuyang panjang, yakni mulai dari jaman Rasulullah SAW sampai sekarang dan pada area yang sangat luas mulai dari Mekkah sampai hampir seluruh belahan dunia. Dalam perjalanansejarahnya, peradaban Islam seringkali mengalami pasang surut, baik dalam bidang keilmuan,sosial budaya, agama, ekonomi, dan politk khususnya menyangkut masalah kekuasaan.

 

Di dalam memahami sejarah peradaban Islam, perlu mengetahui pembabakan berdasarkan periodisasi historis, yaitu : periode klasik, pertengahan dan modern. Sesuai dengan pembahasan masalah untuk pembahasan hanya pada masa klasik dan pertengahan

 

 

  1. A.     MASA KLASIK

 

Merupakan awal pembabakan peradaban Islam. Periode ini dimulai ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Muhammad pertama kali diangkat menjadi rasul pada malam hari tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611 M, diriwayatkan Malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Quran yang disampaikan kepada Muhammad, yaitu surah Al-Alaq. Muhammad diperintahkan untuk membaca ayat yang telah disampaikan kepadanya, namun ia mengelak dengan berkata ia tak bisa membaca. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Jibril berkata:

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5)

Muhammad berusia 40 tahun 6 bulan dan 8 hari ketika ayat pertama sekaligus pengangkatannya sebagai rasul disampaikan kepadanya menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah atau tahun masehi (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah kejadian di Gua Hira tersebut, Muhammad kembali ke rumahnya, diriwayatkan ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian akibat peristiwa yang baru saja dialaminya dan meminta istrinya agar memberinya selimut.

Sekitar tahun 613 M, tiga tahun setelah Islam disebarkan secara diam-diam, Muhammad mulai melakukan penyebaran Islam secara terbuka kepada masyarakat Mekkah, respon yang ia terima sangat keras dan masif, ini disebabkan karena ajaran Islam yang dibawa olehnya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi budaya dan pola pikir masyarakat Mekkah saat itu. Pemimpin Mekkah Abu Jahal menyatakan bahwa Muhammad adalah orang gila yang akan merusak tatanan hidup orang Mekkah, akibat penolakan keras yang datang dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Muhammad dan banyak pemeluk Islam awal disiksa, dianiaya, dihina, disingkirkan dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat Mekkah.

Walau mendapat perlakuan tersebut, ia tetap mendapatkan pengikut dalam jumlah besar, para pengikutnya ini kemudian menyebarkan ajarannya melalui perdagangan ke negeri Syam, Persia, dan kawasan jazirah Arab. Setelah itu, banyak orang yang penasaran dan tertarik kemudian datang ke Mekkah dan Madinah untuk mendengar langsung dari Muhammad, penampilan dan kepribadiannya yang sudah terkenal baik memudahkannya untuk mendapat simpati dan dukungan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini menjadi semakin mudah ketika Umar bin Khattab dan sejumlah besar tokoh petinggi suku Quraisy lainnya memutuskan untuk memeluk ajaran islam, meskipun banyak juga yang menjadi antipati mengingat saat itu sentimen kesukuan sangat besar di Mekkah dan Medinah. Tercatat pula Muhammad mendapatkan banyak pengikut dari negeri Farsi (sekarang Iran), salah satu yang tercatat adalah Salman al-Farisi, seorang ilmuwan asal Persia yang kemudian menjadi sahabat Muhammad.

Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Islam selama periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah (pindah) ke Habsyah (sekarang Ethiophia). Negus atau raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib, kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.

Hijrah ke Madinah

Masyarakat Arab dari berbagai suku setiap tahunnya datang ke Mekkah untuk beziarah ke Bait Allah atau Ka’bah, mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan dalam kunjungan tersebut. Muhammad melihat ini sebagai peluang untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan ajarannya ialah sekumpulan orang dari Yatsrib. Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi para pemeluk Islam dan Muhammad dari kekejaman penduduk Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yatsrib datang lagi ke Mekkah, mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yastrib dikarenakan situasi di Mekkah yang tidak kondusif bagi keamanan para pemeluk Islam. Muhammad akhirnya menerima ajakan tersebut dan memutuskan berhijrah ke Yastrib pada tahun 622 M.

Mengetahui bahwa banyak pemeluk Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha mengcegahnya, mereka beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yastrib, Muhammad akan mendapat peluang untuk mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah yang jauh lebih luas. Setelah selama kurang lebih dua bulan ia dan pemeluk Islam terlibat dalam peperangan dan serangkaian perjanjian, akhirnya masyarakat Muslim pindah dari Mekkah ke Yastrib, yang kemudian setelah kedatangan rombongan dari Makkah pada tahun 622 dikenal sebagai Madinah atau Madinatun Nabi (kota Nabi).

Di Madinah, pemerintahan (kekhalifahan) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (salat) dan bermasyarakat di Madinah, begitupun kaum minoritas Kristen dan Yahudi. Dalam periode setelah hijrah ke Madinah, Muhammad sering mendapat serangkaian serangan, teror, ancaman pembunuhan dan peperangan yang ia terima dari penguasa Mekkah, akan tetapi semuanya dapat teratasi lebih mudah dengan umat Islam yang saat itu telah bersatu di Madinah.

 

 

Penaklukan Mekkah

Tahun 629 M, tahun ke-8 H setelah hijrah ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke Makkah dengan membawa pasukan Muslim sebanyak 10.000 orang, saat itu ia bermaksud untuk menaklukkan kota Mekkah dan menyatukan para penduduk kota Mekkah dan madinah. Penguasa Mekkah yang tidak memiliki pertahanan yang memadai kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa perlawanan, dengan syarat kota Mekkah akan diserahkan tahun berikutnya. Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ketika ia kembali, ia telah berhasil mempersatukan Mekkah dan Madinah, dan lebih luas lagi ia saat itu telah berhasil menyebarluaskan Islam ke seluruh Jazirah Arab.

Muhammad memimpin umat Islam menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka’bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan Islam di kota Mekkah.

  • Masa Khulafa al-Rasyidin

 

Nabi Muhammad tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Tampaknya beliau menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiriuntuk menentukannya. Setelah beliau wafat dan jenazahnya belum dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah di Madinahuntuk musyawarah menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah tersebut berjalan cukup alot, karena masing-masing pihak baik kaum Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Tetapi dengan semangat ukhuwah Islamiah yang tinggi, Abu Bakar terpilih sebagaipemimpin umat Islam. Menurut Hassan Ibrahim Hassan, bahwa semangat keagamaan Abu Bakar, mendapatkan penghargaan yang dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak (Muhajirin dan Anshar) dapat menerima Abu Bakar danmembaitkannya sebagai pemimpin umat Islam.

 

1] Masa Khalifah Abu Bakar [632-634 M]

 

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah [pengganti Rasul] yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Abu Bakar menjadi khalifah di tahun 632 M dan usia kepemimpinannya hanya dua tahun, karena pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia. Masanya yang singkat itu banyak dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri , terutama tantangan atau sikap membangkan dari suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk pada pemerintahan Madinah. Alasan yang sangat substansial dari sikap membangkan adalah “mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad, dengan sendirinya tidak mengingat lagi dan batal, setelah Nabi wafat. Dengan dasar ini, maka mereka kemudian mengambil sikap menentang Abu Bakar, sebagai pemimpin umat Islam. Karena sikap membangkang, menentang dan keras kepala yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, maka Abu Bakar menyelesaikan persoalan tersebut dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Dalam perang Riddah ini, Khalid ibn al-Walid adalah jenderal yang banyak dalam mengatasi perang tersebut.

 

Setelah Abu Bakar, menyelesaikan persoalan dalam negeri, kemudian mulai mengirimkan kekuatan-kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn al-Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai al-Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan tiga jenderal yaitu Amr Ibn al-Aas, Abu Ubaidah, Yazid ibn Abi Sufyan, dan Syurabbil ibn Hasanah. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Kemudian untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibn al-Walid diperintahkan meninggalkan Irak, melalui gurun pasir yang jarang dilalui dan ia sampai ke Syria delapan belas hari kemudian. Pada tahun 634 M Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam berada di Palestina, Irak dan kerajaan Hirah. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, maka ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat dan mengangkat Umar ibn Khattab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijakan Abu Bakar tersebut, diterima umat Islam dan secara beramai-ramai membaiat Umar ibn Khattab untuk menjadi khalifah kedua.

 

2] Masa Khalifah Umar ibn Khattab [634 – 644 M].

 

Umar ibn Khattab, menyebut dirinya sebagai khalifah Khalifati Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah). Selain itu, Umar ibn Khattab, juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman). Usaha-usaha yang telah dilakukan Abu Bakar dilanjutkan oleh khalifah kedua Umar ibn Khattab.

Di zaman Umar ibn Khattab, gelombang ekspansi [perluasan daerah kekuasaan dan da’wah] pertama terjadi yaitu ibu kora Syria Damaskus jatuh pada tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, maka seluruh daerah Syria jatuh di bawah kekuasaan dan da’wah Islam. Syria dijadikan sebagai basis, maka ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Aas dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi al-Waqqas. Iskandaria, ibu kota Mesir ditaklukkan dan jatuh di bawah kekuasaan Islam pada tahun 641 M. Kemudian al- Qadisiyah sebuah kota dekat Hirah di Iraq jatuh tahun 637 M dan dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain jatuh pada tahun itu juga dan pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasi. Dengan demikian, pada masa khalifah Umar ibn Khattab, wilayah kekuasaan dan da’wah Islam telah meliputi Jazirah Arabiah, Palestina, Syria, Irak, Persia dan Mesir.

 

Pada zaman Umar ibn Khattab, perluasan daerah da’wah terjadi dengan cepat, sehingga khalifah Umar ibn Khattab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi, yaitu : Mekkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan system pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Selain itu, Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah13. Periode pemerintahan Umar ibn Khattab selama sepuluh tahun [13-23 H/634-644 M] dan masa jabatannya berakhir dengan kematian, karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah seorang budak dari Persia. Untuk menentukan penggantinya, Umar ibn Khattab tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Umar ibn Khattab, menunjuk enam orang sahabat, yaitu : Usman, ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqas, dan Abdurrahman ibn Auf, dan meminta mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Setelah Umar ibn Khattab wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Usman ibn Affan sebagai khalifah ketiga, tentu saja melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali ibn Abi Thalib

.

3] Masa Khalifah Usman ibn Affan [644 – 655 M]

 

Pemerintahan Usman ibn Affan berlangsung selama 12 tahun dan terjadi perluasan wilayah kekuasaan dan da’wah sampai ke Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil disebut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Pada masa pemerintahan Usman ibn Affan, di kalangan umat Islam mulai terjadi perpecahan karena soal pemerintahan. Muncul perasaan tidak puas dan kecewa terhadap sistem pemerintahannya. Kepemimpinan Usman ibn Affan memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar ibn Khattab, hal ini mungkin disebabkan umurnya yang lanjut [diangkat dalam usia 70 tahun] dan sifatnya yang lemah lembut. Selain itu, salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah kebijakannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan ibn Hakam dan dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar khalifah.

 

Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan dan harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri. Akhirnya pada tahun 35 H/655 M, Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa terhadap kebijakan pemerintahannya dan sebagai penggantinya adalah Ali ibn Abi Thalib. Jasa Khalifah Usman diantaranya membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Usman juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, mesjid-mesjid dan memperluas mesjid Nabi di Madinah.

 

4] Masa khalifah Ali ibn Abi Thalib [656 – 661 M]

 

Setelah Usman ibn Affan wafat, masyarakat Islam beramai-ramai membait Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah ke empat. Ali ibn Abi Thalib memerintah hanya enam tahun dan nasibnya sama dengan khalifah Umar ibn Khattab dan Usman ibn Affan yaitu mati terbunuh. Selama masa pemerintahannya, Ali menghadapi berbagai tantangan dan pergolakan, sehingga pada masa pemerintahannya tidak ada masa sedikit pun yang dapat dikatakan stabil.

 

Setelah menduduki jabatan sebagai khalifah, Ali ibn Abi Tahlib, mulai memecat para gubernur yang diangkat oleh Usman. Ali, yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan yang terjadi karena keteledoran mereka. Selain itu, dia juga menarik kembali tanah yang dihadiakan Usman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan pada masa khalifah Umar ibn Khattab.

 

Ali ibn Abi Thalib, mendapatkan tantangan dari pihak pendukung Usman Ibn Affan, terutama Mu’awiah, Gubernur Damskus, dari golongan Talhah dan Zubeir di Mekkah dan dari kaum Khawarij. Ali ibn Abi Thalib, menghadapi penberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Usman ibn Affan dan mereka menuntut bela terhadap darah Usman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin menghindari perang, sehingga Ali mengirimkan surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak dan pertempuran kedua belah pihak tidak dapat dihindari. Berkobarkan pertempuran yang dahsyat yang disebut dengan “Perang Jamal” [Perang Berunta] dan Aisyah [isteri Nabi] terlibat dalam perang melawan Ali ibn Abi Thalib dengan menunggang unta. Ali ibn Abi Thalib berhasil mengalahkan lawannya, Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

 

Kebijakan Ali ibn Abi Thalib, juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur Damaskus Mu’awiyah yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan mereka. Jadi, setelah Ali ibn Abi Thalib, berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, kemudian Ali bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentaranya. Pasukan Ali bertemu dengan pasukan Mu’awiyah di Shiffin dan pertempuran tidak dapat dihindari. Pertempuran yang terjadi di sini antara Ali dengan Mu’awiyah dikenal dengan nama “perang shiffin”. Perang ini diakhiri dengan tahkim [arbitrase], tapi tahkim tersebut ternyata tidak menyelesaikan persoalan, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu golongan al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib yang berbalik menentang Ali dan Mu’awiyah.

 

Diakhir ujung masa pemerintahan Ali ibn Abi Thalib, umat Islam terpacah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu : [1] golongan Mu’awiyah, [2] golongan Syi’ah [pengikut] Ali, dan [3] golongan al-Khawarij [kumpulan orang-orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib]. Tampaknya keadaan ini tidak menguntungkan Ali ibn Abi Thalib, sebab pasukannya semakin lemah dan sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Maka pada tanggal 20 Ramadhan 40 H [660 M], Ali ibn Abi Thalib terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij. Kedudukan Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Tetapi kedudukan Hasan-pun lemah, sementara Mu’awiyah semakin kuat dan akhirnya Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik di bawah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Tetapi di sisi lain, perjanjian itu juga menguntungkan Mu’awiyah yang menyebabkannya menjadi seorang penguasa absolut dalam Islam. Maka tahun 41 H [661 M], tahun persatuan itu, dikenal dalam sejarah Islam sebagai tahun Jama’ah [‘am jama’ah]. Dari sisi tercatat sebagai sejarah berakhirnya apa yang disebut dengan nama Khulafa’ur Rasyidin, dan kemudian sebagai awal dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.

Dari masa khulafa al-Rasidin ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai perkembangan pemikiran dan peradaban Islam, yaitu :

1. Setelah Rasul wafat muncul sistem pemerintahan Islam yang disebut dengan  Khalifah.

2. Sistem pemelihan khalifah, yaitu : Abu Bakar dipilih melalui musyawarah, Umar ibn Khattab, melalui wasiat dari Abu Bakar, Usman ibn Affan, melalui musyawarah enam orang sahabat untuk memilih, dan Ali ibn Abi Thalib, dibaiat langsung oleh masyarakat Islam.

3. Kemajuan dari aspek perluasana kekuasaan dan da’wah serta aspek peradaban Islam, yaitu pada masa Abu Bakar, perluasan wilayah kekuasaan dan da’wah sampai ke Syria. Pada masa Umar ibn Khattab, perluasan wilayah kekuasaan dan da’wah Islam meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, dan sebagian besar wilayah Persia dan Mesir. Selain perluasan wilayah, Umar ibn Khattab, juga melakukan perbaikan pada system administrasi pemerintahan menjadi delapan wilayah propinsi, diatur dan ditertibkan system pembayaran gaji dan pajak tanah, pengadilan didirikan untuk memisahkan lembaga yudikatif dengan eksekutif, membangun sistem keamanan dengan dibentuk jawabatan keamanan [kepolisian], dibentuk jawatan pekerjaan umum, mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menentukan tahun hijrah. Pada masa Usman ibn Affan, membangun bendungan untuk menjaga arus banjir, pengaturan pembagian air ke kota-kota, membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, measjid-mesjid, termasuk memperluas mesjid Nabi di Madinah. Pada masa Ali ibn Abi Thalib, secara politik dan pemikiran mucul tiga golongan, yaitu: golongan Muawiyah, golongan syi’ah [pengkut] Ali, dan golongan khawarij.

4. Ekspansi dan da’wah Islam ke negara-negara yang sangat jauh dari pusat kekuasaan Islam dalam waktu tidak lebih dari setengah abad, merupakan kemenangan yang menakjubkan dari suatu bangsa yang sebelum belum mempunyai pengalaman politik yang memadai. Faktor-faktor yang menyebabkan ekspansi dan da’wah Islam itu demikian cepat, antara lain adalah:

1. Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, juga merupakan agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.

2. Dalam dada para sahabat Nabi tertanam keyakinan tebal tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam [da’wah] ke seluruh penjuru dunia. Di samping itu, suku-suku bangsa Arab gemar berperang. Oleh karena itu, semangat da’wah dan kegemaran berperang tersebut membentuk suatu kesatuan yang padu dalam diri umat Islam.

3. Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada waktu itu, mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan, baik karena sering terjadi peperangan antara kedua kekuatan tersebut maupun karena persoalan-persoalan dalam negeri masing-masing negara tersebut.

4.  Pertentangan aliran agama di wilayah Bizantium mengakibatkan hilangnya kemerdekaan beragama bagi rakyat. Rakyat tidak senang karena pihak kerajaan memaksakan aliran yang dianutnya. Mereka juga tidak senang karena pajak yang tinggi untuk biaya peperangan melawan Persia.

5. Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpati dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya dan masuk Islam.

6. Bangsa Sami di Syria dan Palestina dan bangsa Hami di Mesir memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa Eropa, Bizantium, yang memerintah mereka.

7. Mesir, Syria, dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu membantu penguasa Islam untuk membiayai ekspansi dan da’wah ke daerah yang lebih jauh.

 

Dengan demikian mulai dari masa Abu Bakar sampai kepada masa Ali dinamakan periode Khilafah Rasyidin. Para khalifahnya disebut dengan al-khulafa’ alrasyidun, [khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk]. Ciri masa ini adalah pada khalifah betul-betul menurut teladan Nabi. Mereka dipilih melalui musyawarah atau disebut dengan proses demokrasi. Tetapi ada hal yang sangat menyedihkan dari periode khulafah Rasyidin ini adalah khalifah Umar ibn Khattan, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib, meninggal dalam keadaan terbunuh oleh lawan-lawan politik mereka pada masa pemerintahan mereka. Kemudian setelah periode ini, pemerintahan Islam berbentuk kerajaan dan kekuasaan diwariskan secara turun temurun. Khalifah pada masa khilafah rasyidin tidak pernah bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan, tetapi mereka selalu bermusyawarah dengan para sahabat dan pembesar-pembesar yang lain. Sedangkan pada masa kerajaan Islam, rajanya sering bertindak otoriter.

 

  1. B.    MASA PERTENGAHAN

 

Masa Dinasti Umayyah dan Abasiyah

 

Pada masa ini sistem pemerintahan Islam tidak lagi berbetuk khilafah tetapi berbentuk kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun temurun, sehingga demokratis berubah menjadi monarchiheridetis [kerajaan turun temurun]. Dalam sejarah perkembangan Islam ada dua kerajaan besar yang sangat popular yaitu khilafah Bani Umayyah dan Bani Abasiyah.

 

1. Khilafah Bani Umayyah

 

Memasuki masa kekuasaan Muawiyah menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah dalam bentuk yang berbeda dengan masa khilafah rasyidin. Pemerintahan yang bersifat demokratis pada masa khilafah rasyidin berubah menjadi monarchiheridetis [kerajaan turun temurun]. Artinya, ada perubahan pemikiran politik dalam sistem pemerintahan Islam. Sisi lain yang perlu dicermati adalah kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, tipu daya dan tidak melalui musyawarah dengan sistem pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyat untuk menyatakan setia terhadap anaknya Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi ala Persia dan Bizantium. Walaupun di satu sisi, Muawiyah tetap mempertahankan istilah khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Muawaiyah menyebutnya Khalifah Allah dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.

 

Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah dari ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan [661-680 M], Abd al-Malik ibn Marwan [685-705 M], al-Walid ibn Abdul Malik [705-715 M], Umar ibn Abd al-Aziz [717 – 720 M], dan Hasyim ibn Abd al-Malik [724 – 743 M].

 

Pada masa Bani Umayyah, ekspansi dan da’wah Islam yang tehenti pada masa khalifah Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib, dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Perluasaan kekuasaan dan da’wah yang dilakukan dinasti Muawiyah, dimulai dari menguasai Tunisia, kemudian di disebelah timur, Muawiyah menguasai daerah Khurasan samapi ke sungai Oxus, Afganistan sampai ke Kabul, kota Bizantium dan Konstantinopel. Ekspansi ketimur kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd al-Malik dengan menguasai Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand, bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

 

Ekspansi dan da’wah Islam ke Barat dilakukan oleh al-Walid ibn Abdul Malik. Pada masa pemerintahan Walid merupakan masa ketenteraman, kemakmuran, ketertiban dan umat Islam merasa hidup bahagia. Masa pemerintahan walid berjalan kurang lebih sepuluh tahun dan tercatat suatu ekspediri militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa pada tahun 711 M. Maka setelah al-Jazair dan Marokko ditunduhkan, panglima perang Islam Tariq bin Ziyad menyebrangi selat antara Marokko dengan benua Eropa selat Gibraltar [Jabal Tarqi]. Tentara Spanyol dikalahkan dan Spanyol menjadi sasaran ekspansi dan da’wah Islam selanjutnya. Ibukota Spanyol, Kordova dengan mudah dikuasai, kemudian menyusul kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa.

 

Di zaman Umar ibn Abd al-Aziz, perluasan kekuasaan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee yang dipimpin oleh Rahman ibn Abdullah al-Ghafiqi dan melanjutkan perluasan ke Bordeau, Poitiers. Dari sana al-Ghafiqi menyerang Tours, dan dalam pertempuran yang terjadi di luar kota Tours, al-Ghafiqi terbunuh dan pasukannya mundur ke Spanyol. Dengan keberhasil ekspansi dan da’wah Islam ke beberapa daerah, baik ditimur maupun barat, wilayah kekuasaan dan da’wah Islam pada masa Bani Umayyah sangat luas. Daerah-daerah kekuasaan dan da’wah Islam meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afhanistan, Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.

 

Pada masa Dinasti Bani Umayyah, selain perluasan kekuasaan dan da’wah, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyyah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan perlatannya di sepanjang jalan. Muawiyah juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim [qadhi – seorang spesialis dibidangnya] mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Abd al-Malik, mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Pada tahun 659, Abd al-Malik mencetak uang sendiri dengan menggunakan kata-kata dan tulisan Arab. Abd al-Malik, berhasil melakukan pembenahan adiministrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Al-Walid ibn Abd al-Malik [705-715] [putra Abd al-Malik], berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Al-Walid ibn Abd al-Malik, membangun panti-panti untuk orang catat dan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Al-Walid ibn Abd al-Malik, juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintah dan mesjid-mesjid yang megah.

 

Keberhasilan banyak dicapai oleh Dinasti Bani Umayyah, tetapi hal ini tidak berarti persoalan politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Dalam perjalanan pemerintahan Muawiyah ada hal-hal yang tidak ditaati dalam isi perjanjian dengan Hasan ibn Ali ketika Muawiyah akan naik tahta khalifah. Isi perjanjian tersebut adalah “persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam”. Maka api politik semakin membara ketika Muawiyah mendeklarasikan pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang berakibat terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

 

Analisis situasi politik. Sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepada Yazid ibn Muawiyah ketika naik tahta sebagai khalifah. Kemudian Yazid ibn Muawiyah mengambil sikap dengan mengirimkan surat perintah kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair sebagai lawan politik. Bersamaan dengan itu, Syi’ah [pengikut Ali] melakukan konsolidasi [penggabungan] kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husein ibn Ali, maka pada tahun 680 M, ia pindah dari Mekkah ke Kufah atar permintaan golongan Syi’ah yang ada di Irak, sebab umat Islam ini tidak mengakui Yazid sebagai khalifah. Kemudian mereka mengangkat Husein ibn Ali sebagai khalifah. Akhirnya pertempuran antara kekuatan Yazid ibn Muawiyah dengan Husein ibn Ali tidak terelahkan dan dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela [sebuah daerah di dekat Kufah], tentara Husein mengalami kekalahan dan Husein sendiri mati terbunuh dan yang sangat menyedihkan kepala Husein dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.

 

Tampaknya gerakan politik dan perlawanan orang-orang Syi’ah tidak padam dengan terbunuhnya Husein, tetapi gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras dan gigih dan tersebar luas. Banyak gerakan politik dan pemberontakan yang dipelopori kaum Syi’ah dan yang termashur di antaranya adalah pemberontakan Mukhtar di Kufa pada tahun 685-687 M. Mukhtar, mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali [umat Islam bukan Arab] yang berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain yang dianggap sebagai warga negara kelas dua pada Dinasti Bani Umayyah. Tetapi, Mukhtar sendiri terbunuh dalam melawan gerakan oposisi lainnya, gerakan Abdullah ibn Zubair, namun di satu sisi ibn Zubair juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah.

 

Gerakan politik dan perlawanan terhadap Bani Umayyah juga muncul dari gerakan oposisi di Mekkah yaitu Abdullah ibn Zubair karena menolak sumpah setia pada Yazid ibn Muawiyah. Abdullah ibn Zubair, baru menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husein Ibn Ali terbunu. Tentara Yazid, kemudian mengepung Mekkah dan dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun peperangan terhentiu karena khalifah Yazid wafat dan tentara Yazid ditarik kembali ke Damaskus. Kekuatan dan gerakan Abdullah ibn Zubair baru dapat dihancurkan pada masa khalifah Abd al-Malik. Tentara Abd al-Malik dipimpin al-Hajjaj berangkat menuju Thaif kemudian ke Madinah dan meneruskan perjalanan ke Mekkah, Ka’bah diserbu dan keluarga ibn Zubair dan sahabatnya melarikan diri, sementara ibn Zubair melakukan perlawanan dan akhirnya mati terbunuh pada tahun 73 H – 692 M35.

 

Selain gerakan-gerakan di atas, gerakan-gerakan anarkis yang dilancarkan kelompok Khawarij dan Syi’ah juga selalu dapat diredamkan. Maka dengan keberhasilan memberantas gerakan-gerakan tersebut, membuat orientasi pemerintahan dinasti Bani Umayyah dirahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur [meliputi kota-kota di sekitas Asia Tengah] dan wilayah Afrika begian utara dan bahkan membuka jalan untuk menaklukan Spanyol.

 

Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz [717 – 720 M]. Ketika dinobatkan sebagai khalifah, Umar ibn Abd al-Aziz menyatakan bahwa akan “memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik dari pada menambah perluasan wilayah”. Hal ini menunjukkan bahwa khalifah Umar ibn Abd al-Aziz menentukan sikap perioritas utama adalah pembangunan dalam negeri. Meskinpun masa pemerintahannya sangat singkat, tetapi Umar ibn Abd al-Aziz berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah. Selain itu, Umar ibn Abd al-Aziz juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Pajak diperingan dan kedudukan kaum mawali disejajarkan dengan muslim Arab.

 

Sepeninggal Umar ibn Abd al-Aziz, kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid ibn Abd al-Malik [720 – 742 M]. Khalifah Yazid ibn Abd al-Malik, sangat gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat pada mada khalifah Umar ibn Abd al-Aziz, hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, sedangkan pada zaman Yazid ibn Abd al-Malik kedaan berubah menjadi kacau. Maka dengan latar belakang kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid ibn Abd al-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn Abd Malik [724 – 743 M]. Pada masa pemerintahan Hisyam ibn Abd Malik sebagai emberio berakhirnya dinasti Bani Umayyah, karena muncul satu kekuatan baru dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali yang menjadi tantangan berat dan ancaman yang sangat serius. Maka, dalam perkembangan berikutnya kekuatan baru tersebut mampu menggulingkan dinasti Bani Umayyah dan menggantikannya dengan dinasti Bani Abbas.

 

Menurut sejarawan, bahwa sebenarnya Hisyam ibn Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil, tetapi karane gerakan oposisi terlalu kuat sehingga khalifah tidak berdaya mematahkan gerakan-gerakan oposisi tersebut. Kemudian sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik, muncul khalifah-khalifah Bani Umayyah yang lemah dan juga bermoral buruk. Keadaan ini memperkuat gerakan-gerakan oposisi dan akhirnya pada tahun 750 M, daulat Bani Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani. Khalifah terakhir dari dinasti Bani Umayyah yaitu Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Mesir, kemudian ditangkap dan dibunuh di Mesir.

 

Dari perjalanan sejarah pemerintahan dan kekuasaan dinasti Bani Umayyah ini, ada beberapa faktor kelemahan yang menyebabkan dan membawa kehancuran dinasti tersebut. Faktor-faktor tersebut, antara lain :

[1]  Sistem pemerintahan khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan senioritas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah, menyababkan terjadinya persaingan tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

[2]  Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak dapat dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali ibn Abi Thalib. Siswa-siwa pengkut Ali [Syi’ah] dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

[3]  Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara [Bani Qays] dan Arabia Selatan [Bani Kalb] yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing. Perselihan suku-suku ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalan persatuan dan kesatuan. Selain itu, sebagian besar golongan mawali [non Arab], terutama di Irak dan wilayah begian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.

[4]  Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana, sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Selain itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

[5] Penyabab utama tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

 

2. Khilafah Bani Abbas

 

Khilafah Abbasiyah melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad saw, sehingga dinamakan khilafah Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdulah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas dan kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H [750 M] sampai dengan 656 H [1258 M]. Pola pemerintahan yang diterapkan dinasti berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode, yaitu :

[1] Periode Pertama [132 H/750 M – 232 H/847 M, disebut periode pengaruh Persia Pertama.

[2] Periode Kedua [232 H/847 M – 334 H/945 M], disebut masa pengaruh Turki pertama.

[3]  Periode Ketiga [334 H/945 M – 447 H/1055 M], masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah dan periode ini disebut juga dengan masa pengaruh Persia kedua.

[4]  Periode Keempat [447 H/1055 M – 590 H/1194 M], masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah dan masa ini disebut juga masa pengaruh Turki kedua.

[5] Periode Kelima [590 H/1194 M – 656 H/1258 M], masa khilafah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.

 

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Pada periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintah dinasti Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

 

Pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. Pembina sebenarnya adalah Abu Ja’far al-Mansur [754-775 M]. al-Mansur, sangat keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan beginya satu persatu disingkirkannya. Bahkan pamannya sendiri yaitu Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali sebagai gubernur yang ditunjuk oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak bersedia membaiatnya, keduanya dibunuh oleh Abu Muslim al-Khurasani atas perintah al-Manshur dan Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing dan membayakan baginya, dihukum mati pada tahun 755 M.

 

Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Untuk menjaga stabilitas negara yang baru berdiri, al-Manshur memindahkan ibu kota negara  ke kota yang baru dibangunnya, Bagdad dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan koordinasi dan penertiban pemerintahannya, mengangkat sejumlah personil untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator departemen dan wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Selain itu, al-Manshur juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara serta membenahi angkatan bersenjata. Menunjuk Abd al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak dinasti Bani Umayyah ditingkatkan perannya dengan ditambah tugas yaitu selain mengantar surat, juga ditugasi untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.

 

Masa khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintahan pusat dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Merebut benteng-benten di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara, pasukannya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Pasukannya berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oksus dan India.

 

Pada masa al-Manshur, terjadi perubahan pengertian khalifah. al-Manshur, mengatakan “Inna ana Sultahan Allah fi ardhihi” [sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya]. Dari sini, konsep khilafah dalam pendangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan “mandat dari Allah” dan bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al-Khulafa’ al-Rasyadun. Selain itu, ada yang berbeda dengan khalifah-khalifah dinasti Bani Umayyah, yaitu khalifah-khalifah Abbasiyah memakai “gelar tahta”, seperti al-Manshur adalah “gelar tahta” Abu Ja’far, “gelar tahta” itu lebih popular dari pada nama sebenarnya.

 

Dasar-dasar pemerintahan daulat Bani Abbasiyah diletakan dan dibangun oleh Abu al-Abbas dan Abu Ja’far al-Manshur. Puncak keemasan dari dinasti Bani Abbasiyah berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu :

[1] al-Mahdi [775-785 M].

[2] al-Hadi [775-786 M].

[3] Harun al-Rasyid [786-809 M].

[4] al-Ma’mun [813-833 M].

[5] al-Mu’tashim [833-842 M].

[6] al-Wasiq [842-847 M].

[7] al-Mutawakkil [847-861 M].

 

Katakan saja, pada masa khalifah al-Mahdi, perekonomian mulai meningkat dengan

peningkatan di sector pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan

seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Selain itu, dagang transit antara Timur dan

Barat juga banyak membawa kekayaan dengan Bashrah menjadi pelabuhan yang

strategis dan penting.

 

Popularitas daulat Bani Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid [786-809 M] dan putranya al-Ma’mun [813-833 M]. Pada masa ini, kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat sekitar 800 orang dokter. Selain itu, permandian-permandian umum juga dibangun. Maka dapat dikatakan bahwa tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Khalifah al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penterjemahan buku-buku Yunani, dan al-Ma’mun menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. al-Ma’mun, banyak mendirikan sekolah dan salah satu karya besarnya yang terpenting adalam pembangunan Bait al-Hikmah yang digunakan sebagai pusat penerjemahan dan juga berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Maka pada al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan

.

Khalifah al-Mu’tashim [833-842 M], sebagai anak dari ibu yang berasal dari Turki, mendatangkan orang-orang Turki untuk menjadi tentara pengawal. Banyak memberikan peluang kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan dan keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Dinasti Abbasiyah, mengadakan perubahan dalam sistem ketentaraan yaitu praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti, tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit professional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbasiyah menjadi sangat kuat. Tetapi dalam periode ini, banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas pemerintahan, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari laur, seperti gerakan-gerakan dari sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan, tetapi semua gerakan tersebut dapat dipadamkan oleh pemerintahan Bani Abbas.

 

Dari paparan di atas, dapat dikatakan bahwa Dinasti Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah kekuasaan. Inilah perbedaan yang menonjol antara dinasti Bani Abbasiyah dengan Bani Umayyah. Selain itu, ciri-ciri yang menonjol dari dinasti Bani Abbasiyah yang tak terdapat pada zaman Bani Umayyah, adalah :

[1]  Berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan dinasti Umayyah sangat berorientasi kepada Arab. Ada pengaruh kebudayaan dalam sistem pemerintahan Abbasiyah, yaitu :

[a]   pada periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah dipengaruhi oleh kebudayaan Persia yang sangat kuat.

[b]  pada periode kedua dan keempat pemerintahan Abbasiyah, bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti Abbasiyah.

[2] Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbasiyah ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Sedangkan jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.

[3] Ketenteraan professional baru terbentuk pada masa pemerintahaan Bani Abbasiyah. Sebelumnya, pada dinasti Bani Umayyah belum adatentara khusus yang professional.

[4] Perbedaan lain, pada masa Bani Umayyah merupakan masa ekspansi daerah kekuasaan dan da’wah Islam, sedangkan pada masa Bani Abbasiyah adalah masa pembentukan dan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.

 

Puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Akan tetapi, ini tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbasiyah sendiri, tetapi sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Katakan saja, dalam bidang pendidikan, misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu,lembaga-lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat, yaitu:

[1] Maktab/Kuttab dan mesjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan, dan tempat para rema belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fikih dan bahasa.

[2] Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di mesjid-mesjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan dapat berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke istana.

 

Lembaga-lembaga tersebut berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana ada orang-orang yang membaca, menulis, dan berdiskusi. Jadi, perkembangan lembaga-lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Selain itu kemajuan yang dicapai oleh dinasti Bani Abbasiyah, paling tidak ditentukan oleh dua hal, yaitu :

[1]  Terjadinya asimilasi antara bansa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Maka terjadi asimilasi yang berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Maka bangsa-bangsa itu telah memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sangat kuat dalam bidang pemerintahan dan di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra55. Selain itu, pengaruh India juga terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

[2]  Gerakan terjemahan, berlangsung dalam tiga fase, yaitu :

[a] Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Pada fase ini banyak yang diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq.

[b]  Fase kedua, berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H, yaitu banyak buku-buku yang diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran.

[c]  Fase ketiga, berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

 

Pengaruh dari kebudayaan yang sudah maju tersebut terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Perkembangan yang pesat dalam bidang tafsir, artinya sejak awal sudah dikenal dua metode penafsiran, yaitu : Pertama, metode tafsir bi alma’tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua, metode tafsir bi al-Ra’yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada hadis dan pendapat sahabat. Kedua metode tafsir ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi [tafsir rasional], dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fikih dan terutama dalam ilmu teologi. Maka perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut.

 

Imam-imam mazhab hukum yang empat juga muncul pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Hanifah [700-767 M] dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Dengan demikian, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadis. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf menjadi Qodhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid. Sedangkan Imam Malik [713-795 M] banyak menggunakan hadis dan tradisi masyarakat Madinah, sehingga berbeda dengan Imam Abu Hanifah. Maka pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’I [767-820 M] dan Imam Ahmad ibn Hanbal [780-855 M]. Dalam perkembangan selanjutnya, selain empat pendiri empat mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah banyak muncul mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula, tetapi karena pengikutnya tidak berkembang dan akhirnya pemikiran dan mazhab tersebut hilang dengan sendirinya.

 

Aliran-aliran teologi sudah bermunculan pada masa Bani Umayyah, seperi Khawarij, Murjiah, dan Mu’tazilah. Akan tetapi perkembangan pemikiran mereka masih terbatas. Teologi rasional Mu’tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani Umayyah, namun pemikiran-pemikiran mereka yang lebih kompleks dan sempurna baru dirumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah periode pertama, setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran rasional dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf [135-235 H/752-849 M] dan al-Nazzam [185-21 H/801-835 M]. Aliran Asy’ariyah, yang merupakan aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al- Asy’ari [873-935 M] yang juga lahir pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah ini juga banyak sekali terpangaruh oleh logika Yunani. Hal ini dapat terjadi, karena al-Asy’ari sebelumnya adalah pengikut aliran Mu’atazilah. Hal yang sama juga terjadi pula pada bidang sastra. Penulisan hadis, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyah dan hal ini mungkin saja disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadis bekerja.

 

Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Farazi sebagai astronomi Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Fargani, dikenal di Eropa dengan namaal-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis61. Dalam bidang kedokteran dikenal nama al-Razi dan Ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measle. Al-Razi, di Eropa dikenal dengan nama Rhazes, mengarang buku mengenai penyakit cacar dan campak, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggris dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Bukunya Al-Hawi, membahas berbagai cabang ilmu kedokteran yang terdiri dari 20 jilid. Menurut Harun Nasution, buku al-Razi yang berjudul al-Hawi merupakan salah satu dari kesembilan karangan yang merupakan seluruh perpustakaan Fakultas Kedokteran Paris di tahun 1395 M. Selain itu, al-Razi, juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Perkembangan selanjutnya, ilmu kedokteran berada di tangan Ibn Sina yang juga seorang filosof dan berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia.Di antara karya Ibn Sina dalam ilmu kedokteran adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Bukunya yang termashur adalah al-Syifa’ dan ensiklopedia tentang fisika65. Dalam bidang optika Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythami, yang namanya di Eropa menjadi Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian ternyata terbukti kebenarannya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata dan karena menerima cahaya itu mata melahat benda yang bersangkutan. Di bidang kimia, terkenal nama Jaabir ibn Hayyam yang terkenal sebagai bapak al-kimia66. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika, terkenal nama Muhammad ibn Masa al- Khawarizmi yang juga mahir dalam bidang astronomi. Muhammad ibn Masa al- Khawarizmi, yang menciptakan ilmu aljabar. Kata “aljabar” berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqabalah67. Dalam bidang sejarah, terkenal nama al-Mas’udi dan dia juga ahli dalam ilmu geografi dan di antara karyanya adalah Muruj al-Zaahab wa Ma’adin al-Jawahir.

 

Dalam bidang filsafat, tokoh-tokoh yang terkenal adalah al-Farabi, Ibn Sina,dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan enterpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina, juga banyak mengarang buku tentang filsafat dan yang terkenal di antaranya adalah al-Syifa’. Suatu ensiklopedia tentang fisika, metafisika, dan matematika yang terdiri dari 18 jilid. Di Eropa, Ibn Sina dengan tafsiran yang dikarangnya tentang filsafat Aristoteles lebih terkenal daripada Al-Farabi. Ibn Rusyd, di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, yang banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di Barat terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme. Dalam lapangan penyusunan hadis-hadis Nabi menjadi buku, terkenal nama Muslim dan Bukhari. Dalam bidang fikih atau hukum Islam terkenal nama-nama, seperti Malik ibn Anas, al-Syafi’I, Abu Hanifah dan Ahmad ibn Hanbal. Dalam bidang tafsir, terkenal nama al-Tabari [839-923 M].

 

Kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Maka pada ini,kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan, sehingga Islam mencapai keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa pemerintahan dan kekuasaan Bani Abbasiyah pada periode pertama. Tetapi pada perkembangan selanjutnya, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran.

 

3. Masa Disintegrasi [1000 – 1250 M]

 

Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya telah mulai terjadi pada akhir dinasti Bani Umayyah, tetapi memuncak di zaman dinasti Bani Abbasiyah terutrama sekali pada khalifah-khalifah yang menjadi boneka dalam tangan tentara pengawal. Daerah-daerah yang jauh letaknya dari pusat pemerintahan di Damaskus dan kemudian Bagdad melepaskaan diri dari kekuasaan khalifah dipusat dan bermunculan dinasti-dinasti kecil.

 

Dalam periode pertama, sebenarnya banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan politik yang merongrong pemerintahan dan mengganggu stabilitas mucul di mana-mana, baik gerakan dari kalangan intern Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Namun, semua gerakan tersebut dapat diatasi dengan baik oleh pemerintahan Bani Abbasiyah. Keberhasilan Dinasti Bani Abbasiyah dalam menanggulangi gejolak dalam negeri, semakin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Tetapi keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya yaitu setelah periode pertama berlalu, para khalifah berada dalam kemewahan, tetapi sangat lemah, dan mereka berada di bawah pengaruh kekuasaan yang lain.

 

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah khalifah-khalifah ini juga ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan kemewahan-mewah, ditambah dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara professional asal Turki yang semula diangkat oleh khalifah al-Mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbasiyah mulai pudar dan ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti Bani Abbasiyah, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.

 

Kebijakan khalifah al-Mu’tashim terhadap unsur Turki, dilatarbelakangi oleh adanya persaiangan antar golongan Arab dan Persia pada masa khalifah al-Ma’mun dan sebelumnya. Perebutan kekuasaan antara al-Amin dan al-Ma’mun juga dilatarbelakangi dan diperkuat oleh persaingan antara golongan Arab yang mendukung al-Amin dan golongan Persia yang mendukung al-Ma’mun. Jadi masuknya unsur Turki dalam pemerintahan Bani Abbasiyah semakin menambah persaingan antar bangsa. Tetapi al-Mu’tashim dan khalifah sesudahnya al-Watsiq mampu pengendalikan mereka. Akan tetapi, pada khalifah al-Mutawakkil adalah khalifah yang lemah dan merupakan awal kemunduran politik Bani Abbasiyah. Pada masa pemerintahannya tentara Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat dan setelah al-Mutawakkil wafat, mereka yang mengendalikan untuk memilih dan mengangkat khalifah. Kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Sebanranya, ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki, tetapi selalu gagal. Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka ditunkan dari tahta dengan paksa. Dengan demikian, wibawa khalifah merosot tajam. Maka setelah tentara Turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat dan mendirikan dinasti-dinasti kecil. Inilah permulaan mada disintegrasi dalam sejarah politik Islam.

 

Dari uraian di atas, dapat dicermati beberapa sebab kemunduran pemerintahan Bani Abbasiyah, adalah :

1. Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.

2. Dinasti-dinasti yang memerdekan diri dari Baghdad, akibat dari kebijakan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik. Propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas dengan berbagai cara, yaitu :

[1] pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko,

[2] seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah, kedudukannya  semakin bertambah kuat, seperti daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan.

[3] Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko, propinsi-propinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti, karena pemerintahan Baghdad stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan yang muncul. Tetapi pada saat wibawa khalifah sudah mulai lemah dan memudar, mereka melepaskan diri dari pemerintahan Baghdad, bahkan mereka menggerogoti kekuasaan khalifah dan berusaha menguasai khalifah itu sendiri.

3. Keruntuhan kekuasaan Bani Abbasiyah mulai terlihat sejak awal kesembilan. Fenomena ini muncul bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki kekuatan militer di propinsi-propinsi tertentu yang membuat mereka kuat dan benar-benar independen. Sebab, kekuasaan militer Abbasiyah pada saat itu mulai mengalami kemunduran dan sebagai pengganti, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang professional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki. Pengangkatan anggota meliter Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya ternyata menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah.

4. Pada periode pertama pemerintahan dinasi Abbasiyah, sudah muncul fanatisme kebangsaan berupa gerakan syu’ubiyah [kebangsaan/anti Arab]. Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap gerakan politik dan persoalanpersoalan keagamaan. Nampaknya, para khalifah Abbasiyah tidak sadar akan bahaya politik dari fanatisme kebangsaan dan aliran keagamaan itu. Fanatisme ini, berkembang dalam hampir semua aspek kehidupan, seperti dalam kesusasteraan dan karya-karya ilmiah, tetapi penguasa Abbasiyah tidak bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut, sehingga ada di antara mereka justru melibatkan diri dalam konflik kebangsaan dan keagamaan.

5. Faktor-faktor penting lain yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah pada periode ini, sehingga banyak daerah memerdekan diri adalah :

1. Luasnya wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintah sangat rendah.

2. Dengan profesionalisme militer, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.

3. Keuangan negara sangat sulit, karena biaya yang dikeluarkan untuk militer bayaran sangat besar. Maka pada saat kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggung memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.

6. Perebutan Kekuasaan di Pusat Pemerintahan. Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Membiarkan jabatan tetap dipegang oleh Bani Abbas, karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi, sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka.

7. Perang Salib [perang suci] ini terjadi pada tahun 1095, saat Paus Urbanus II berseru kepada Umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci, memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk yang menetapkan beberapa peraturan yang memberatkan bagi Umat kristen yang hendak berziarah ke sana. Perang Salib ini, dipicu oleh peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H [1017 M]. Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa itu berhasil mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian ini bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Kemudian penguasa Seljuk menerapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen untuk berziarah ke Bait al-Maqdis dan peraturan itu dirasakan sangat menulitkan umat Kristen. Maka untuk memperoleh kembali keleluasan berziarah ke tanah suci Kristen, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

  • Masa klasik merupakan awal pembabakan peradaban Islam. Periode ini dimulai ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul yang kemudian dilanjutkan dengan masa Khulafa al-Rasyidin yaitu Masa Khalifah Abu Bakar, Masa Khalifah Umar ibn Khattab, Masa Khalifah Usman ibn Affan, Masa khalifah Ali ibn Abi Thalib. Setelah masa khulafa al-Rasyidin dilanjutkan oleh Khilafah Bani Umayyah,Khilafah Bani Abbas dimana pada periode ini sudah memasuki masa pertengahan.

 

  • Dari masa khulafa al-Rasidin ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, sebagai perkembangan pemikiran dan peradaban Islam, yaitu :

1. Setelah Rasul wafat muncul sistem pemerintahan Islam yang disebut dengan  Khalifah.

2. Sistem pemilihan khalifah,

3. Kemajuan dari aspek perluasan kekuasaan dan da’wah serta aspek peradaban Islam.

4. Ekspansi dan da’wah Islam ke negara-negara yang sangat jauh dari pusat kekuasaan Islam dalam waktu tidak lebih dari setengah abad, merupakan kemenangan yang menakjubkan dari suatu bangsa yang sebelum belum mempunyai pengalaman politik yang memadai.

 

  • Pada masa Dinasti Bani Umayyah, selain perluasan kekuasaan dan da’wah, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang.
  1. mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan         kuda yang lengkap dengan perlatannya di sepanjang jalan.
  2. menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang.
  3. mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam.
  4. mencetak uang sendiri dengan menggunakan kata-kata dan tulisan Arab. melakukan pembenahan adiministrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam
  5. membangun panti-panti untuk orang catat dan semua personil yang terlibat  dalam kegiatan humanis ini digaji oleh negara secara tetap
  6. .membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintah dan mesjid-mesjid yang megah.

 

  • Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Maka terjadi asimilasi yang berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Maka bangsa-bangsa itu telah memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sangat kuat dalam bidang pemerintahan dan di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Selain itu, pengaruh India juga terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.

 

  • Imam-imam mazhab hukum yang empat juga muncul pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Hanifah [700-767 M] dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Dengan demikian, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadis. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf menjadi Qodhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid. Sedangkan Imam Malik [713-795 M] banyak menggunakan hadis dan tradisi masyarakat Madinah, sehingga berbeda dengan Imam Abu Hanifah. Maka pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syafi’I [767-820 M] dan Imam Ahmad ibn Hanbal [780-855 M]. Dalam perkembangan selanjutnya, selain empat pendiri empat mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah banyak muncul mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula, tetapi karena pengikutnya tidak berkembang dan akhirnya pemikiran dan mazhab tersebut hilang dengan sendirinya.

 

Iklan




Sistem Informasi Manajemen ( Penerapan e-ticketing dalam bidang transportasi udara )

13 01 2012

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Awalnya AirAsia dimiliki oleh DRB-HICOM milik Pemerintah Malaysia namun maskapai ini memiliki beban yang berat dan akhirnya dibeli oleh mantan eksekutif Time Warner, Tony Fernandes, dengan harga simbolik 1 Ringgit pada 2 Desember 2001. Tony melakukan turnaround dan AirAsia berhasil membukukan laba pada 2002 dengan berbagai rute baru dan harga promosi serendah 10 RM bersaing dengan Malaysia Airlines.

Pada 2003, dibukalah pangkalan kedua di Bandara Senai, Johor Bahru dekat Singapura dan AirAsia melakukan penerbangan internasionalnya ke Thailand. Sejak itu, dibukalah Thai AirAsia dan dilakukanlah berbagai penambahan rute seperti ke Singapura dan Indonesia. Penerbangan ke Makau dimulai pada Juni 2004 sedangkan penerbangan ke Manila dan Xiamen dimulai pada April 2005. Rute lain yang akan dibuka adalah ke Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Laos.

Selain Thai AirAsia, di Indonesia juga terdapat perusahaan AirAsia yaitu Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR) yang terbang dari Jakarta ke Yogyakarta, Denpasar untuk tujuan lokal, dan dari Surabaya ke Medan untuk rute domestik lainnya, selain itu penerbangan dilakukan keluar Indonesia melalui kota-kota besar seperti Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Balikpapan dan Makassar.

1.2 Tujuan penulisan

            Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk lebih memahami Pengertian Sistem Informasi dan juga Manfaatnya

 

1.3 Sistematika Penulisan

            Dalam penyusunan makalah ini terdiri dari bab perbab menurut urutan pembahasannya, yang terdiri dari :

BAB I             : PENDAHULUAN

Berisi uraian Latar belakang masalah ,Tujuan penulisan, dan Sistematika Penulisan.

BAB II            : PEMBAHASAN

Berisi tentang pembahasan Pengertian Sistem Informasi Manajemen ( SIM ), Penerapan SIM dalam Transportasi, Pengertian e-ticketing,  Manfaat e-ticketing, Langkah-langkah e-ticketing, Permasalahan dan Contoh.

BAB III          : PENUTUP

Berisi kesimpulan dari uraian dan pembahasan pada  makalah ini.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Informasi Manajemen ( SIM )

Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkatnya dengan muncunya peraturan dari pemerintah.

Lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama dengan munculnya masalah manajemen dengan munculnya pemecahan yang memadai.

Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Banyak organisasi yang gagal membangun SIM karena :

1. Kurang organisasi yang wajar

2. Kurangnya perencanaan yang memadai

3. Kurang personil yang handal

4. Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.

Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.

Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika.

2.2 Penerapan SIM dalam Transportasi

Keberhasilan dari pembangunan tidak terlepas dari peran aktif dari semua sektor terutama sector transportasi. Luasnya wilayah jasa pelayanan angkutan darat yang harus dapat dijangkau, yang meliputi seluruh wilayah Indonesia , maka perlu dilakukan suatu penanganan khusus dalam

meningkatkan kualitas pelayanan transportasi darat yang aman, selamat, mudah dijangkau, berdaya saing dan terintegrasi. Pengelolaan pelayanan transportasi darat dalam skala nasional merupakan pekerjaan yang kompleks. Pekerjaan ini harus memperhitungan berbagai sub moda transportasi darat baik umum maupun pribadi, berbagai event-event rutin maupun khusus yang dapat meningkatkan beban transportasi darat seperti angkutan lebaran, natal dan tahun baru, liburan, bencana alam, kondisi operasional di lapangan (kemacetan lalu lintas yang semakin parah di kota-kota besar dan metropolitan), perkembangan sarana-prasarana transportasi dan juga tindakan-tindakan pihak-pihak lain yang dapat mengganggu jalannya pelayanan jasa angkutan darat. Dalam penyelenggaraan transportasi darat, sangat perlu kecepatan informasi agar setiap permasalahan dapat diatasi secara cepat dan semaksimal mungkin. Kondisi tersebut perlu dan harus didukung dengan sistem teknologi informasi untuk transportasi darat yang handal, yang mampu saling mendukung dan terpadu dengan sistem – sistem lainnya.

Transportasi darat dengan cepat, tepat, konsisten dan mudah selalu tersedia setiap saat (Timely Available). Guna mewujudkan sistem tersebut, pada saat ini hal tersebut sangat dimungkinkan dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi yang didukung pula oleh perkembangan kemampuan sumber daya manusia di Indonesia dalam penguasaan teknologi informasi.Dalam perencanaan pembangunan transportasi darat, pemanfaatan data base dengan menggunakan teknologi informasi berbasis GIS (Geografic Information Sistem) sangat diperlukan. Pada tingkat operasional guna mengatasi permasalahan lalu lintas di tingkat lokal maka penerapan Program Aplikasi Pengendalian Lalu Lintas seperti ATCS/ITCS (Area Traffic Control System/Integrated Traffic Control System), ITS ( Intelegent Transport System), sedangkan ditingkat regional dan nasional pengembangan Transportation Management Centre (TMC) merupakan salah satu solusi terbaik dari sistem teknologi informasi yang dapat dikembangkan. Selain daripada itu dalam rangka melayani kebutuhan informasi transportasi darat bagi masyarakat dan penerapan e-governance penggunaan website, call centre, sms centre merupakan media informasi yang efektif dan effisien sedangkan untuk kelancaran dan kemudahan pelayanan transportasi darat pengunaan smart card dimasa datang akan menjadi suatu kebutuhan.

2.3 Pengertian e-ticketing

E-ticketing atau electronic ticketing adalah suatu cara untuk mendokumentasikan proses penjualan dari aktifitas perjalanan pelanggan tanpa harus mengeluarkan dokumen berharga secara fisik ataupun paper ticket. Semua informasi mengenai electronic ticketing disimpan secara digital dalam sistem komputer milik airline. Sebagai bukti pengeluaran E-Ticket, pelanggan akan diberikan Itinerary Receipt yang hanya berlaku sebagai alt untuk masuk ke dalam bandara di Indonesia yang masih mengharuskan penumpang untuk membawa tanda bukti perjalanan. E-ticketing (ET) adalah peluang untuk meminimalkan biaya dan mengoptimalkan kenyamanan penumpang. E-ticketing mengurangi biaya proses tiket, menghilangkan fomulir kertas dan meningkatkan fleksibilitas penumpang dan agen perjalanan dalam membuat perubahan-perubahan dalam jadwal perjalanan.

Sejalan dengan perkembangan teknololgi informasi, internet kini muncul sebagai alternative system distribusi informasi travel. Internet merupakan m edium yang sempurna untuk menjual paket perjalanan, karena internet sanggup membawa jaringan supplier yang luas dan basis kostumer yang besar ke sebuah market place terpusat. Adapun pengertian lain yaitu E-Ticketing, atau penjualan tiket online, merupakan salah satu cara bagi orang untuk membeli tiket untuk acara lokal. Merupakan fasilitas pemesanan tiket online yang dirancang untuk membantu kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses ke sistem jenis ini .. Hal ini memungkinkan kelompok-kelompok masyarakat untuk meningkatkan kegiatan dan menjual tiket secara online melalui situs web Kingston Council.

E-Ticketing sistem untuk memudahkan orang untuk membeli tiket untuk berbagai acara semua dari satu situs web. Tiket dapat dibeli dengan cara ini dengan uang tunai, cek atau kredit / kartu debit. Orang tanpa akses ke internet dapat memesan tiket melalui internet publik di terminal atau perpustakaan di Pusat Informasi dan Visitor Centre.

Anda tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan ‘keamanan’ tiket penerbangan nantinya. Lupakan resiko hilangnya tiket, dicuri, tertinggal, atau bahkan tercebur air. Bahkan E-ticketing memungkinkan anda, membelikan tiket untuk kerabat pada saat mendadak. Kemudahan yang demikian ini, merupakan bukti komitmen Garuda Indonesia terhadap konsumennya.

Siapapun dapat membeli tiket pada sistem online. Anda harus mendaftar pada sistem pembayaran kami untuk menggunakan sarana. Ini adalah proses yang sangat sederhana dan membantu Anda menyimpan data yang Anda telah membeli tiket. Promoters memiliki daerah aman pada situs e-tiket di mana mereka dapat memantau penjualan dan mencetak off daftar orang-orang yang memesan untuk menghadiri acara mereka. Anda perlu mendaftar sebelum Anda dapat mulai menjual tiket. Proses pendaftaran untuk meminta informasi mengenai rincian kontak pribadi serta rincian dan kelompok masyarakat yang harus membayar tiket pendapatan. Proses pendaftaran juga memerlukan anda untuk menerima syarat dan ketentuan untuk penjualan tiket on-line.

2.4 Manfaat e-ticketing

Saat ini hanya ada beberapa cara untuk membeli tiket untuk kegiatan kesenian masyarakat. Sistem ini akan memberikan Anda akses cepat dan mudah untuk berbagai macam acara melalui satu situs. Ini dapat digunakan untuk membeli tiket menggunakan kredit / kartu debit dan cek, yang banyak gerai tiket tidak dapat dilakukan pada saat ini. Hal ini juga sepenuhnya aman.

Setiap organisasi yang perencanaan sebuah event dan bertanggung jawab untuk penjualan tiket untuk aktivitas dapat meningkatkan aktivitas di situs Web. Semua promoters yang mendaftar akan disetujui oleh administrator sebelum mereka dapat mulai menjual tiket sehingga hanya mereka yang dapat menunjukkan bahwa mereka yang utama Acara akan diizinkan untuk mempromosikan acara itu. Sistem ini memungkinkan Anda untuk mempromosikan aktivitas secara gratis dan menjual tiket untuk acara ke khalayak yang lebih luas. Hal ini juga berarti Anda tidak perlu membayar biaya untuk menyiapkan sistem ini atau administrasi itu. E-ticketing menyediakan banyak manfaat diantaranya :

  1. Biaya Simpanan – Mengurangi biaya yang terkait dengan pencetakan dan mailing tiket tiket ke pembeli. Menghilangkan atau mengurangi memerlukan tiket untuk stok, amplop dan pos.
  2. Buruh Simpanan – Mengurangi tenaga kerja yang terkait dengan pencetakan dan mailing tiket. Potong bawah pada upaya yang diperlukan untuk mengambil tiket untuk membeli Akan Panggil pesanan.
  3. Aman dan Aman – E-Tiket selamat dan aman. Barcode validasi menghilangkan kemungkinan palsu dan duplikat tiket.
  4. Kehadiran sebenarnya Pelaporan – Cari tahu berapa banyak Anda e-tiket patrons dihadiri Anda acara dan ketika mereka tiba.
  5. Instant Pengiriman – Tiket pembeli senang menjadi mampu mencetak tiket mereka segera. Tidak perlu menunggu surat atau menunggu di baris di acara tersebut. Pelanggan dapat mencetak tiket elektronik mereka segera setelah mereka membelinya. Hal ini membuat e-tiket yang ideal untuk hadiah menit terakhir atau menit terakhir keputusan.
  6. Informasi tambahan – E-Tiket menyediakan ruang untuk tambahan informasi seperti peta jalan, arah, dan lain informasi pelanggan Anda mungkin perlu tahu.
  7. Periklanan – E-Tiket menyediakan kemampuan unik periklanan. Meningkatkan pendapatan perusahaan anda dengan menawarkan ruang iklan pada web Anda tiket.

Sementara mempertahankan standar keselamatan yang tinggi merupakan prioritas utama untuk memastikan keselamatan penerbangan, sejumlah maskapai layanan penuh telah mengadopsi e-tiket mereka sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan. E-sistem tiket penumpang yang memungkinkan sebuah buku tiket pesawat untuk mendapatkan salinan mereka terima berisi catatan Penemu atau reservasi dan nomor e-tiket nomor. Bahwa e-tiket sangat menguntungkan bagi kedua perusahaan penerbangan dan pelancong. menghilangkan masalah ini dan biaya yang pelancong pengalaman ketika mereka kehilangan tiket kertas. Jika sebuah tiket boarding terputus, mendapatkan penggantian sering mudah seperti naik ke loket tiket dan memberikan Anda nomor konfirmasi untuk baru satu. Sementara untuk maskapai penerbangan, e-tiket adalah lebih murah dan lebih efisien metode pengelolaan tiket. Ia menghilangkan manual tugas yang diperlukan untuk proses dan account untuk kertas tiket penerbangan dan menyimpan biaya bahan lainnya, seperti tiket jaket. Seorang penumpang yang memegang e-tiket memiliki pilihan untuk check-in online dan cetak out nya tiket boarding di rumah atau di kantor. Layanan ini tersedia antara 30 jam dan satu jam sebelum penumpang jadwal keberangkatan. Dengan manfaat bagi kedua perusahaan penerbangan dan penumpang, maka tidak mengherankan bahwa semakin banyak perusahaan penerbangan yang menyiapkan sistem tiket elektronik – sesuatu yang telah mendapat respon antusias dari penumpang di seluruh dunia.

2.5 Langkah-langkah e-ticketing

Dalam proses e-ticketing terdapat beberapa langkah yang dapat dilakuklan guna mempermudah kita dalam pemesanan tiket secara online dimana dengan e-ticketing kita repot mengantri dalam memesan tiket.Langkah-langkah E-Ticketing sangat praktis, reservasi adalah yang paling utama. Sabagai seorang mobile, sibuk dan akrab dengan e-lifestyle, ada beberapa pilihan yang tersedia bagi anda. Menelepon Call Center maskapai penerbangan yang dipilih. Langkah berikutnya adalah pembayaran. Dengan mengutamakan kemudahan, anda dapat melakukannya melalui ATM, serta credit card. Call Center yang menjamin keamanan saat memasukkan nomor credit card. Terjamin semua informasi anda akan disimpan dengan rapi dan aman. Jika tertinggal tanda terima perjalanan, anda dapat meminta duplikatnya di seluruh kantor penjualan tiket maskapai penerbangan (airport).

2.6 Permasalahan dan Contoh

Saat ini permasalahan pelayanan transportasi udara yang sangat serius terjadi di wilayah perkotaan terutama di kota-kota besar dan kota metropolitan didunia. Dominasi penngguna pesawat terbang dalam melalukan perjalanan tidak seimbang dengan jumlah pesawat yang ada. pada akhirnya akan menyebabkan kepadatan penumpang yang tinggi di bandara-bandara (airport). Hal ini

Kondisi ini pada akhirnya akan memunculkan problem klasik di setiap perusahaan maskapai penerbangan, seperti halnya masalah rute penerbangan,jadwal penerbangan yang tidak tepat dan pemesanan tiket dan lain-lain.

Salah satu solusi yang fundamental dari pemerintah khususnya mengenai pemesanan tiket adalah dengan menerapkan system e-ticketing pada setiap maskapai penerbangan yang ada. Karena dengan adanya system e-ticketing dapat memudahkan kita dalam memperoleh tiket .

Namun di balik kemudahan –kemudahan yang ada terdapat juga beberapa masalah diantaranya :

  • Tidak semua orang mengerti tentang internet artinya belum bisa mengoprasikan internet itu sendiri
  • Keterbatasan pihak maskapai penerbangan dalam memasarkan tiketnya secara online
  • Belum semua orang mengetahui tentang bagaimana caranya memesan tiket secara online
  • Belum semua orang mengetahui dan paham betul tentang e-ticketing

Salah satu maskapai penerbangan yang menerapkan pemesanan tiket secara online (e-ticketing) yaitu maskapai penerbangan AirAsia. PT. Indonesia Air Asia merupakan kerjasama gabungan dengan maskapai berbiaya rendah yang terkemuka Asia Tenggara, AirAsia Berhad – yang memiliki 49% sahamnya. Indonesia AirAsia diluncurkan kembali pada tanggal 8 Desember 2004 sebagai maskapai penerbangan berbiaya hemat dan mengusung konsep yang sama dengan Grup AirAsia. Indonesia AirAsia hadir dengan harga terjangkau dan konsep “tanpa embel-embel” (tanpa tiket, tempat duduk bebas dan tanpa penyediaan makanan). Indonesia AirAsia sekarang telah mengoperasikan sebelas armada Boeing 737-300 yang melayani delapan rute domestik, yaitu dari Jakarta ke Medan, Padang, Pekanbaru, Denpasar (Bali), Balikpapan, Surabaya, Batam dan Solo, serta lima belas rute internasional dari Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Padang, Pekanbaru, Surabaya ke Kuala Lumpur (Malaysia), dari Jakarta ke Johor Bahru, Bangkok, Kota Kinabalu, Kuching dan Penang, dari Medan ke Penang (Malaysia) dan dari Bali ke Kota Kinabalu dan Kuching. Hingga akhir tahun 2007, Indonesia AirAsia telah menerbangkan lebih dari 4,3 juta tamu. Bagi Indonesia AirAsia keselamatan penumpang merupakan hal terutama. Indonesia AirAsia selalu mengedepankan keselamatan penumpang beserta awak pesawat dan pilot. Tidak hanya saat di udara, tetapi juga saat pemesanan, check-in , boarding , terbang, hingga tiba di tempat tujuan. Indonesia AirAsia mempercayakan seluruh perawatan armadanya di Garuda Maintenance Facilities (GMF). Di tempat tersebut, dilakukan pemeriksaan rutin dan pemeriksaan pemeliharaan tingkat rendah “A” check, hingga pemeliharaan tingkat tinggi “C” check. Indonesia AirAsia akan terus melakukan pengembangan serta penambahan armada untuk memenuhi antusiasme masyarakat terhadap hadirnya maskapai dengan konsep Low Cost Carrier (LCC) yang aman dan nyaman di Indonesia. Kami ingin semua masyarakat Indonesia, baik tua-muda, balita-lansia, sehat maupun cacat merasakan terbang dengan nyaman dan aman menggunakan Boeing 737-300 Indonesia AirAsia yang berkursi empuk dan mewah serta lorong kabin yang ditebari karpet merah. Adapun kegiatan operasional AirAsia mengikuti pola operasi sebagai berikut :

§ Harga hemat, tanpa embel embel

Harga AirAsia selalu lebih rendah dibandingkan maskapai lainnya. Layanan jasa seperti ini sangat cocok bagi penumpang yang hanya ingin terbang tanpa embel embel makanan, tanpa layanan airport lounge, tanpa mengikuti program loyalty frequent flyer miles. Semua ini lebih baik di tukar dengan harga kursi yang 80% jauh lebih murah dibandingkan dengan mengikutsertakan layanan layanantersebut.
Tidak memberikan makanan atau minuman. Namun AirAsia mempunyai ‘Snack Attack’, yang menyajikan berbagai macam pilihan lezat untuk makanan dan minuman dengan harga yang terjangkau dan hanya untuk para tamu AirAsia. Tamu dapat membelinya di dalam pesawat.

§ Frekuensi Terbang Tinggi

Frekuensi terbang AirAsia yang tinggi bertujuan untuk kenyamanan para tamu. Maskapai inimempraktekkan pola 25 menit untuk tinggal landas, dimana merupakan yang paling cepat di Asia, sehingga menghasilkan utilisasi pesawat yang tinggi, biaya makin rendah dan produktivitas staf/maskapai yang makin meningkat.

§ Untuk Kenyamanan Tamu

AirAsia berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang nyaman untuk membuat perjalanan lebih mudah. Tamu dapat melakukan pembelian dengan kenyamanan berikut :

  • · Call Center (Pusat Layanan Telepon) – Berdiri pada bulan februari 2004, Call Center AirAsia berlokasi di Halim Perdana Kusuma dengan 60 layanan sambungan telepon untuk kenyamanan para tamu dalam membeli penerbangan.
  • · Terbang tanpa tiket – Diluncurkan pada tanggal 18 April 2002, konsep ini melengkapi layanan pembelian dari Internet booking AirAsia dan layanan Call Center dengan menyediakan alternatif murah biaya dari tiket cetak asli. Tamu tidak lagi perlu repot repot untuk mengambil tiket!
  • · Beli lewat Internet – sebagai maskapai pertama yang memperkenalkan layanan ini di Asia, AirAsia menawarkan cara baru yang nyaman dalam membeli kursi AirAsia melalui website www.airasia.com.Tidak perlu telepon, tidak perlu antri. www.airasia.com di luncurkan pada tanggal 10 Mei 2002, dan sekarang tersedia dalam 6 bahasa – English, Bahasa Malaysia, Mandarin, Thai dan Bahasa Indonesia.
  • · Reservasi dan kantor penjualan – Tersedia di bandara dan di kota untuk kenyamanan bagi tamu yang ingin datang langsung.
  • · Travel agent resmi – AirAsia juga memperkenalkan layanan online B2B kepada travel agent. Fitur berbasis internet dengan informasi ketersediaan kursi secara real time yang pertama di Asia. Travel agent dapat melakukan pembayaran secara virtual melalui kartu kredit.
  • · Layanan pelanggan untuk lebih baik – AirAsia secara terus menerus cari mencari cara untuk melayani lebih baik dan memberikan penghematan lebih lagi kepada tamu nya.

§ Keamanan yang utama

AirAsia (PT. IAA) melakukan pemeriksaan rutin pesawatnya di hangar Garuda Maintenance Facilities (GMF). Kegiatan in merupakan komitmen kepada masyarakat bahwa Indonesia AirAsia selalu patuh pada ketentuan keselamatan penerbangan. Saat ini GMF sudah memiliki approval EASA (sertifikasi dari authority Eropa) dan FAA (sertifikasi dari authority Amerika) yang berarti kualitas perawatan pesawat di GMF sudah diakui oleh dunia internasional.

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

 

 

 

 

MAKALAH INDIVIDU SISTEM INFORMASI

Nama Dosen : Nahot Frastian, S.Kom
PROGRAM STUDI : TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI SISTEM INFORMASI

http://siunindra.blogspot.com





Computer Based Information System (CBIS)

10 01 2012
Pengertian CBIS
Computer Based Information System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan. Istilah-istilah yang terkait dengan CBIS adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer.
Data
Berikut adalah tiga pengertian Data dari sudut pandang yang berbeda-beda:
*    Menurut berbagai kamus bahasa Inggris-Indonesia, data diterjemahkan sebagai istilah yang berasal dari kata “datum” yang berarti fakta atau bahan-bahan keterangan.
*    Dari sudut pandang bisnis, terdapat pengertian data bisnis sebagai berikut: “Business data is an organization’s description of things (resources) and events (transactions) that it faces”. Jadi data, dalam hal ini disebut sebagai data bisnis, merupakan deskripsi organisasi tentang sesuatu (resources) dan kejadian (transactions) yang terjadi.
*    Pengertian yang lain mengatakan bahwa “data is the description of things and events that we face”. Data merupakan deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi.
Jadi data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.
Informasi
Berikut juga akan disampaikan pengertian informasi dari berbagai sumber:
*     Menurut Barry E. Cushing dalam buku Accounting Information System and Business Organization, dikatakan bahwa informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya.
*     Menurut Gordon B. Davis dalam bukunya Management Informations System :ConceptualFoundations, Structures, and Development menyebut informasi sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan.
*     Menurut  John Dearden dan Robert N. Anthony dalam buku Management Control Systems, menyebut informasi sebagai suatu kenyataan, data, item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya.
*     Menurut Mark G. Simkin dan Stephen A. Moscove dalam bukunya Accounting Information Systems : Concepts and Practise mengatakan informasi sebagai kenyataan atau bentuk-bentuk yang berguna yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.
Dari keempat pengertian dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya serta menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.
Sistem Informasi
Sistem Informasi merupakan sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.
Berbasis Komputer
Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi. Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer.
Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.
B. Era Globalisasi dan Tingginya Tingkat Kompetisi
Strategi yang dapat dilakukan setiap perusahaan untuk dapat memenangkan kompetisi di era modern seperti saat ini, yaitu :
–       Penguasaan teknologi untuk menghasilkan produk barang maupun jasa.
–       Peningkatan kualitas sumber daya manusia.
–       Marketplace yang tepat.
–       Terbentuknya sistem informasi yang akurat untuk membantu setiap pengambilan keputusan.
C. Sub Sistem dari Sistem Informasi Berbasis Komputer
Sub sistem dari CBIS adalah :
1.Sistem Informasi Akuntansi
SIA lebih berorientasi pada data dibanding pada informasi, walaupun ada beberapa informasi yang dihasilkan. SIA menyediakan database bagi sisten informasi lain.
SIA adalah satu-satunya sistem informasi yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan informasi di luar perusahaan, meyediakan informasi untuk seluruh lingkungan kecuali pesaing.
2.Sistem Informasi Manajemen
Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem perusahaan tentang apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia didalam laporan periodik, laporan khusus, dan hasil simulasi matematika, output informasi tersebut digunakan manajer saat mereka membuat keputusan untuk pemecahan masalah.
Semua informasi tersebut memiliki karakteristik yang sama untuk bidang area fungsional (marketing, manufaktur, sdm, dan keuangan), level manajemen (operational, manajerial, dan strategis), dan user (manajer atau non manajer) SIM informasi memperoleh data dari database, dimana database tersebut berisi data dan informasi dari SIA dan dari lingkungan.
Suatu SIM bisa juga merupakan suatu sistem informasi antar organisasi (IOS) jika SIM terkoneksi dengan SIM pada perusahaan lain misalnya dengan Suplier.
SIM dan SIA
SIM menggunakan data yang disediakan SIA dalam database, dan informasi lain yang berasal dari lingkungan. Isi dari database tersebut digunakan oleh software untuk membuat laporan periodik dan laporan khusus, serta model matematika untuk mensimulasikan aspek operasi perusahan, Berbeda dengan SIA, SIM tidak berkewajiban menyediakan informasi bagi lingkungan.
3. Sistem Pendukung Keputusan
Dalam upaya memecahkan masalah seorang problem solver akan banyak membuat keputusan. Keputusan harus diambil untuk menghindari atau mengurangi dampak negatif atau untuk memanfaatkan peluang yang ada.
4.Automasi Kantor (Virtual Office)
Automasi kantor kini disebut dengan istilah kantor virtual, mencakup semua sistem elektronik formal dan informal terutama berkaitan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang –orang didalam maupun diluar perusahaan. Pengguna OA dibagi menjadi empat kategori yaitu:
• Manajer, yang bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya perusahaan.
• Profesional, tidak mengelola tetapi menyumbangkan keahlian khusus yang membedakan mereka dengan sekretaris dan pegawai administrasi.
• Sekretaris, ditugaskan untuk membantu pekerja terdidik (Manajer & Profesional) untuk melaksanakan berbagai tugas korespondensi, menjawab telepon, dan mengatur jadwal pertemuan.
• Pegawai Administrasi, melaksanakan tugas-tugas untuk sekretaris, seperti mengioperasikan mesin fotokopi, menyususn dokumen, menyimpan dokumen, dan mengirim surat.
5.Sistem Pakar
Sistem pakar mirip dengan DSS yaitu bertujuan menyediakan dukungan pemecahan masalah tingkat tinggi untuk pemakai. Perbedaan ES dan DSS adalah kemampuan ES untuk menjelaskan alur penalarannya dalam mencapai suatu pemecahan tertentu. Sangat sering terjadi penjelasan cara pemecahan masalah ternyata lebih berharga dari pemecahannya itu sendiri.
D. Kontribusi CBIS
Saat ini sistem informasi merupakan pengendalian manajemen yang penting. Hal ini disebabkan karena tujuan dari pengendalian manajemen adalah untuk membantu manajemen dalam mengkoordinasi subunit-subunit dari organisasi dan mengarah pada bagian tersebut untuk mencapai tujuan perusahaan. Dua hal yang menjadi perhatian dari definisi diatas adalah mengkoordinasi dan mengarahkan. Tentu saja dalam dua proses tersebut diperlukan satu sistem agar proses koordinasi dan pengarahan dapat berjalan secara efektif sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Manfaat utama dari perkembangan sistem informasi bagi sistem pengendalian manajemen adalah :
§   penghematan waktu
§   penghematan biaya
§   peningkatan efektivitas
§   pengembangan teknologi pengembangan personel akuntansi

Diharapkan dengan adanya manfaat ini mampu memberikan kompetisi yang sehat bagi perusahaan dalam persaingan yang ketat. Khususnya di era globalisasi yang semakin canggih seperti sekarang ini.





PENGERTIAN SISTEM INFORMASI

9 01 2012

Konsep Dasar Sistem

Sistem : kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Menurut Jerry FithGerald ; sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

Karakteristik Sistem / Elemen Sistem :

  • Memiliki komponen ;
  • Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sistem tidak perduli betapapun kecilnya, selalu mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem dapat mempunyai suatu sistem yang lebih besar yang disebut supra sistem, misalnya suatu perusahaan dapat disebut dengan suatu sistem dan industri yang merupakan sistem yang lebih besar dapat disebut dengan supra sistem. Kalau dipandang industri sebagai suatu sistem, maka perusahaan dapat disebut sebagai subsistem. Demikian juga bila perusahaan dipandang sebagai suatu sistem, maka sistem akuntansi adalah subsistemnya.
  • Batas sistem (boundary) ;

Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.

  • Lingkungan luar sistem (environment) ;

Adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem.

  • Penghubung sistem (interface) ;

Merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem yang lainnya.

  • Masukan sistem (input) ;

Merupakan energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran. Sebagai contoh didalam sistem komputer, program adalah maintanance input yang digunakan untuk mengoperasikan komputernya dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.

  • Keluaran sistem (Output) ;

Merupakan hasil dari energi yang diolah oleh sistem.

  • Pengolah sistem (Process) ;

Merupakan bagian yang memproses masukan untuk menjadi keluaran yang diinginkan.

  • Sasaran sistem ;

Kalau sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya.

Klasifikasi Sistem :

  • Sistem abstrak ; sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik (sistem teologia)

Sistem fisik ; merupakan sistem yang ada secara fisik (sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dll.)

  • Sistem alamiah ; sistem yang terjadi melalui proses alam. (sistem matahari, sistem luar angkasa, sistem reproduksi dll.

Sistem buatan manusia ; sistem yang dirancang oleh manusia.

Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi manusia dengan mesin disebut human-machine system (contoh ; sistem informasi)

  • Sistem Tertentu (deterministic system) ; beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan (contoh ; sistem komputer)

Sistem tak tentu (probabilistic system) ; sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.

  • Sistem tertutup (close system) ; sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh dengan sistem luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak luarnya. Secara teoritis sistem tersebut ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak benar-benar tertutup).

Sistem terbuka (open system) ; sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya.

  • Sistem sederhana dan Sistem kompleks

Tingkatan Sistem Informasi

Beberapa jenis TI yang dikembangkan berdasarkan lini manajerial, memiliki fungsi dan manfaat bagi tiap tingkatan manajerial. Adapun tingkatan SI tersebut adalah :

  1. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaction Processing Sytems-TPS). TPS merupakan hasil perkembangan dari pembentukan kantor elektronik, dimana sebagian dari pekerjaan rutin diotomatisasi termasuk untuk pemrosesan transaksi. Pada TPS, data yang dimasukkan merupakan data-data transaksi yang terjadi.
  2. Sistem Informasi Manajemen (SIM). SIM  adalah sebuah kelengkapan pengelolaan dari proses-proses yang menyediakan informasi untuk manajer guna mendukung operasi-operasi dan pembuatan keputusan dalam sebuah organisasi.Pada SIM, masukan yang diberikan berupa data transaksi yang telah diproses, beberapa data yang asli, model-model pengolahan data.Kemudian data-data tersebut akan diproses. Proses yang terjadi berupa pembuatan laporan-laporan yang ringkas, keputusan-keputusan yang rutin dan jawaban dari query yang diberikan.
  3. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) merupakan peningkatan dari SIM dengan penyediaan prosedur-prosedur khusus dan pemodelan yang unik yang akan membantu manajer dalam memperoleh alternative keputusan.
  4. Sistem Informasi e-Business dibangun untuk menjawab tantangan pengintegrasian data dan informasi dari proses bisnis berbasis internet.

 

Lebih spesifik dikenal juga yang disebut dengan sistem terotomasi ; yang merupakan bagian dari sistem buatan manusia dan berinteraksi dengan kontrol oleh satu atau lebih komputer sebagai bagian dari sistem yang digunakan dalam masyarakat modern.

 

Sistem terotomasi mempunyai sejumlah komponen yaitu ;

  • Perangkat keras (CPU, disk, printer, tape).
  • Perangkat lunak (sistem operasi, sistem database, program pengontrol komunikasi, program aplikasi).
  • Personil (yang mengoperasikan sistem, menyediakan masukan, mengkonsumsi keluaran dan melakukan aktivitas manual yang mendukung sistem).
  • Data (yang harus tersimpan dalam sistem selama jangka waktu tertentu).
  • Prosedur (instruksi dan kebijakan untuk mengoperasikan sistem).

 

Sistem terotomasi terbagi dalam sejumlah katagori :

¨      On-line systems. Sistem on-line adalah sistem yang menerima langsung input pada area dimana input tersebut direkam dan menghasilkan output yang dapat berupa hasil komputasi pada area dimana mereka dibutuhkan. Area sendiri dapat dipisah-pisah dalam skala, misalnya ratusan kilometer. Biasanya digunakan bagi reservasi angkutan udara, reservasi kereta api, perbankan dll.

¨      Real-time systems. Sistem real-time adalah mekanisme pengontrolan, perekaman data, pemrosesan yang sangat cepat sehinga output yang dihasilkan dapat diterima dalam waktu yang relatif sama. Perbedaan dengan sistem on-line adalah satuan waktu yang digunakan real-time biasanya seperseratus atau seperseribu detik sedangkan on-line masih dalah skala detik atau bahkan kadang beberapa menit. Perbedaan lainnya, on-line biasanya hanya berinteraksi dengan pemakai, sedangkan real-time berinteraksi langsung dengan pemakai dan lingkungan yang dipetakan.

¨      Decision support system + strategic planning system. Sistem yang memproses transaksi organisasi secara harian dan membantu para manajer mengambil keputusan, mengevaluasi dan menganalisa tujuan organisasi. Digunakan untuk sistem penggajian, sistem pemesanan, sistem akuntansi dan sistem produksi. Biasanya berbentuk paket statistik, paket pemasaran dll. Sistem ini tidak hanya merekam dan menampilkan data tetapi juga fungsi-fungsi matematik, data analisa statistik dan menampilkan informasi dalam bentuk grafik (tabel, chart) sebagaimana laporan konvensional.

¨      Knowledge-based system. Program komputer yang dibuat mendekati kemampuan dan pengetahuan seorang pakar. Umumnya menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak khusus seperti LISP dan PROLOG.

 

Sistem berdasarkan prinsip dasar secara umum terbagi dalam :

  • Sistem terspesialisasi ; adalah sistem yang sulit diterakpan pada lingkungan yang berbeda (misalnya sistem biologi; ikan yang dipindahkan ke darat)
  • Sistem besar ; adalah sistem yang sebagian besar sumber dayanya berfungsi melakukan perawatan harian (misalnya dinosaurus sebagai sistem biologi menghabiskan sebagian besar masa hidupnya dengan makan dan makan).
  • Sistem sebagai bagian dari sistem lain ; sistem selalu merupakan bagian dari sistem yang lebih besar, dan dapat  terbagi menjadi sistem yang lebih kecil.
  • Sistem berkembang ; walaupun tidak berlaku bagi semua sistem tetapi hampir semua sistem selalu berkembang.

 

Pelaku sistem terdiri dari 7 kelompok :

1.      Pemakai ;

Pada umumnya 3 ada jenis pemakai, yaitu operasional, pengawas dan eksekutif

2.      Manajemen ;

Umumnya terdiri dari 3 jenis manajemen, yaitu manajemen pemakai yang bertugas menangani pemakaian dimana sistem baru diterapkan, manajemen sistem yang terlibat dalam pengembangan sistem itu sendiri dan manajemen umum yang terlibat dalam strategi perencanaan sistem dan sistem pendukung pengambilan keputusan. Kelompok manajemen biasanya terlibat dengan keputusan yang berhubungan dengan orang, waktu dan uang, misalnya ;

“ sistem tersebut harus mampu melakukan fungsi x,y,z, selain itu harus dikembangkan dalam waktu enam bulan dengan melibatkan programmer dari departemen w, dengan biaya sebesar x”.

3.      Pemeriksa ;

Ukuran dan kerumitan sistem yang dikerjakan dan bentuk alami organisasi dimana sistem tersebut diimplementasikan dapat menentukan kesimpulan perlu tidaknya pemeriksa. Pemeriksa biasanya menentukan segala sesuatunya berdasarkan ukuran-ukuran standar yang dikembangkan pada banyak perusahaan sejenis.

4.      Penganalisa sistem ;

Fungsi-fungsinya antara lain sebagai :

–          Arkeolog ; yaitu yang menelusuri bagaimana sebenarnya sistem lama berjalan, bagaimana sistem tersebut dijalankan dan segala hal yang menyangkut sistem lama.

–          Inovator ; yaitu yang membantu mengembangkan dan membuka wawasan pemakai bagi kemungkinan-kemungkinan lain.

–          Mediator ;   yaitu yang menjalankan fungsi komunikasi dari semua level, antara lain pemakai, manajer, programmer, pemeriksa dan pelaku sistem yang lainnya yang mungkin belum punya sikap dan cara pandang yang sama.

–          Pimpinan proyek ; Penganalisa sistem haruslah personil yang lebih berpengalaman dari programmer atau desainer. Selain itu mengingat penganalisa sistem umumnya ditetapkan terlebih dahulu dalam suatu pekerjaan sebelum yang lain bekerja, adalah hal yang wajar jika penanggung jawab pekerjaan menjadi porsi penganalisa sistem

5.      Pendesain sistem ;

Pendesain sistem menerima hasil penganalisa sistem berupa kebutuhan pemakai yang tidak berorientasi pada teknologi tertentu, yang kemudian ditransformasikan ke desain arsitektur tingkat tinggi dan dapat diformulasikan oleh programmer.

6.      Programmer ;

Mengerjakan dalam bentuk program dari hasil desain yang telah diterima dari pendesain.

7.      Personel pengoperasian ;

Bertugas dan bertanggungjawab di pusat komputer misalnya jaringan, keamanan perangkat keras, keamanan perangkat lunak, pencetakan dan backup. Pelaku ini mungkin tidak diperlukan bila sistem yang berjalan tidak besar dan tidak membutuhkan klasifikasi khusus untuk menjalankan sistem.


 

Hal mendasar dalam pengembangan sistem

Penganalisa sistem merupakan bagian dari tim yang berfungsi mengembangkan sistem yang memiliki daya guna tinggi dan memenuhi kebutuhan pemakai akhir. Pengembangan ini dipengaruhi sejumlah hal,yaitu :

  • Produktifitas, saat ini dibutuhkan sistem yang lebih banyak, lebih bagus dan lebih cepat. Hal ini membutuhkan lebih banyak programmer dan penganalisa sistem yang berkualitas, kondisi kerja ekstra, kemampuan pemakai untuk mengambangkan sendiri, bahasa pemrograman yang lebih baik, perawatan sistem yang lebih baik (umumnya 50 % sampai 70 % sumber daya digunakan untuk perawatan sistem), disiplin teknis pemakaian perangkat lunak dan perangkat pengembangan sistem yang terotomasi.
  • Realibilitas, waktu yang dihabiskan untuk testing sistem secara umum menghabiskan 50% dari waktu total pengembangan sistem.

Dalam kurun waktu 30 tahun sejumlah sistem yang digunakan di berbagai perusahaan mengalami kesalahan dan ironisnya sangat tidak mudah untuk mengubahnya. Jika terjadi kesalahan, ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu melakukan pelacakan sumber kesalahan dan harus menemukan cara untuk mengoreksi kesalahan tersebut dengan mengganti program, menghilangkan sejumlah statement lama atau menambahkan sejumlah statement baru.

  • Maintabilitas, perawatan mencakup ;

–          modifikasi sistem sesuai perkembangan perangkat keras untuk meningkatkan kecepatan pemrosesan (yang memegang peranan penting dalam pengoperasian sistem),

–          modifikasi sistem sesuai perkembangan kebutuhan pemakai. Antara 50% sampai 80% pekerjaan yang dilakukan pada kebanyakan pengembangan sistem dilakukan untuk revisi, modifikasi, konversi,peningkatan dan pelacakan kesalahan.

 

Konsep Dasar Informasi:

Informasi: data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta, suatu nilai yang bermanfaat. Jadi ada suatu proses transformasi data menjadi suatu informasi == input – proses – output.

 Data merupakan raw material untuk suatu informasi. Perbedaan informasi dan data sangat relatif tergantung pada nilai gunanya  bagi manajemen yang memerlukan. Suatu informasi bagi level manajemen tertentu bisa menjadi data bagi manajemen level di atasnya, atau sebaliknya.

 Representasi informasi: pelambangan informasi, misalnya: representasi biner.

 Kuantitas informasi: satuan ukuran informasi. Tergantung representasi. Untuk representasi biner satuannya: bit, byte, word dll.

 Kualitas informasi: bias terhadap error, karena: kesalahan cara pengukuran dan pengumpulan, kegagalan mengikuti prosedur prmrosesan, kehilangan atau data tidak terproses, kesalahan perekaman atau koreksi data, kesalahan file histori/master, kesalahan prosedur pemrosesan ketidak berfungsian sistem.

 Umur informasi: kapan atau sampai kapan sebuah informasi memiliki nilai/arti bagi penggunanya. Ada condition informasion  (mengacu pada titik waktu tertentu) dan operating information (menyatakan suatu perubahan pada suatu range waktu).

Kualitas Informasi ; tergantung dari 3 hal, yaitu informasi harus :

  • Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan masudnya.
  • Tetap pada waktunya, berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat.
  • Relevan, berarti informasi tersebut menpunyai manfaat untuk pemakainya. Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya berbeda.

Nilai Informasi ; ditentukan dari dua hal, yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya. Pengukuran nilai informasi biasanya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness atau cost benefit.

 

Definisi Sistem Informasi:

 

Suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang bermanfaat bagi penggunanya.

Atau ;

Sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia-mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung  operasi, manajemen dalam suatu organisasi.

Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data.

Dari definisi di atas terdapat beberapa kata kunci :

1.      Berbasis komputer dan Sistem Manusia/Mesin

–          Berbasis komputer: perancang harus memahami pengetahuan komputer dan pemrosesan informasi

–          Sistem manusia mesin: ada interaksi antara manusia sebagai pengelola dan mesin sebagai alat untuk memroses informasi. Ada proses manual yang harus dilakukan manusia dan ada proses yang terotomasi oleh mesin. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur/manual sistem.

2.             Sistem basis data terintegrasi

–          Adanya penggunaan basis data secara bersama-sama (sharing) dalam sebuah data base manajemen system.

3.      Mendukung Operasi

–          Informasi yang diolah dan di hasilkan digunakan untuk mendukung operasi organisasi.

 

Istilah Sistem Informasi

= Manajemen Information System

= Information Processing System

= Information Decision System

= Information System.

Semuanya mengacu pada sebuah sistem informasi berbasis komputer yang dirancang untuk mendukung operasi, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan suatu organisasi.

Menurut Robert A. Leitch ; sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

Komponen Fisik Sistem Informasi:

  1. Perangkat keras komputer: CPU, Storage, perangkat Input/Output, Terminal untuk interaksi, Media komunikasi data
  2. Perangkat lunak komputer: perangkat lunak sistem (sistem operasi dan utilitinya), perangkat lunak umum aplikasi (bahasa pemrograman), perangkat lunak aplikasi (aplikasi akuntansi dll).
  3. Basis data: penyimpanan data pada media penyimpan komputer.
  4. Prosedur: langkah-langkah penggunaan sistem
  5. Personil untuk pengelolaan operasi (SDM), meliputi:

–          Clerical personnel (untuk menangani transaksi dan pemrosesan data dan melakukan inquiry = operator);

–          First level manager: untuk mengelola pemrosesan data didukung dengan perencanaan, penjadwalan, identifikasi situasi out-of-control dan pengambilan keputusan level menengah ke bawah.

–          Staff specialist: digunakan untuk analisis untuk perencanaan dan pelaporan.

–          Management: untuk pembuatan laporan berkala, permintaan khsus, analisis khusus, laporan khsusus, pendukung identifikasi masalah dan peluang.

Aplikasi = program + prosedur pengoperasian.

 

HUBUNGAN PENGELOLA DENGAN SISTEM INFORMASI

Pada bagian 1 sudah disebutkan bahwa salah satu komponen dari sistem informasi adalah personel sebagai pengelola informasi. Oleh karena itu hubungan antara sistem informasi dengan pengelolanya sangat erat. Sistem informasi yang dibutuhkan sangat tergantung dari kebutuhan pengelolanya.

 

Pengelola sistem informasi terorganisasi dalam suatu struktur manajemen. Oleh karena itu bentuk / jenis sistem informasi yang diperlukan sesuai dengan level manajemennya.

Manajemen Level Atas: untuk perencanaan strategis, kebijakan dan pengambilan keputusan.

Manejemen Level Menengah: untuk perencanaan taktis.

Manejemen Level Bawah: untuk perencanan dan pengawasan operasi

Operator: untuk pemrosesan transaksi dan merespon permintaan.

 

Untuk pengembangan sebuah sistem informasi diperlukan struktur manajemen organisasi personil.

Strutktur dasarnya:

Direktur Sistem Informasi

Manajer Pengembangan Sistem

Analis Sistem

Programmer

Manejer Komputer dan Operasi.

Variasi struktur manajemen sangat tergantung pada Managerial Efficiency vs User Service.

PENERAPAN SISTEM INFORMASI DALAM AKTIVITAS MANUSIA, ANTARA LAIN:

|       Sistem reservasi pesawat terbang: digunakan dalam biro perjalanan untuk melayani pemesanan/pembelian tiket

|       Sistem untuk menangani penjualan kredit kendaraan bermotor sehingga dapat digunakan untuk memantau hutang para pelanggan

|       Sistem biometric yang dapat mencegah orang yang tak berwenang mengakses informasi yang bersifat rahasia dengan cara menganalisa sidik jari atau retina mata

|       Sistem POS (point-of-sale) yang diterapkan pada pasar swalayan dengan dukungan pembaca barcode untuk mempercepat pemasukan data

|       Sistem telemetri atau pemantauan jarak jauh yang menggunakan teknologi radio,misal untuk mendapatkan suhu lingkungan pada gunung berapi atau memantau getaran pilar jembatan rel kereta api

|       Sistem berbasiskan kartu cerdas (smart card) yang dapat digunakan oleh juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien

|       Sistem yang dipasang pada tempat-tempat public yang memungkinkan seseorang mendapatkan informasi seperti hotel,tempat pariwisata,pertokoan dll.

|       Sistem layanan akademis berbasis web

|       Sistem pertukaran data elektronis (Electronic Data Interchange / EDI) yang memungkinkan pertukaran dokumen antar perusahaan secara elektronis dan data yg terkandung dalam dokumen dapat diproses secara langsung oleh komputer

|       E-government atau system informasi layanan pemerintahan yang berbasis internet..

 

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI

Perancangan sistem informasi merupakan pengembangan sistem baru dari sistem lama yang ada, dimana masalah-masalah yang terjadi pada sistem lama diharapkan sudah teratasi pada sistem yang baru.

 

SIKLUS HIDUP PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

(SYSTEM DEVELOPMENT LIFE CYCLES – SDLC)

Secara konseptual siklus pengembangan sebuah sistem informasi adalah sbb :

  1. Analisis Sistem: menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
  2. Perancangan Sistem: merancang output, input, struktur file, program, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem informasi
  3. Pembangunan dan Testing Sistem: membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak
  4. Implementasi Sistem: beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan pelatihan dan panduan seperlunya.
  5. Operasi dan Perawatan: mendukung operasi sistem informasi dan melakukan perubahan atau tambahan fasilitas.
  6. Evaluasi Sistem: mengevaluasi sejauih mana sistem telah dibangun dan seberapa bagus sistem telah dioperasikan.

Siklus tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Siklus di atas merupakan model klasik dari pengembangan sistem informasi. Model-model baru, seperti prototyping, spiral, 4GT dan kombinasi dikembangkan dari model klasik di atas.

 

ANALISIS SISTEM

Alasan pentingnya mengawali analisis sistem:

  1. Problem-solving: sistem lama tidak berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu analisis diperlukan untuk memperbaiki sistem sehingga dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.
  2. Kebutuhan baru: adanya kebutuhan baru dalam organisasi atau lingkungan sehingga diperlukan adanya modifikasi atau tambahan sistem informasi untuk mendukung organisasi.
  3. Mengimplementasikan ide atau teknologi baru.
  4. Meningkatkan performansi sistem secara keseluruhan.

 

Batasan Analisis Sistem:

Aktifitas yang dilakukan dalam analisis sistem harus dapat menjawab pertanyaan umum, sbb:

  1. Sistem baru apakah yang akan dibangun? atau
  2. Sistem apakah yang akan ditambahkan atau dimodifikasi pada sistem lama yang sudah ada?

Untuk itu secara detail harus dijawab pertanyaan-pertanyaan:

  1. Informasi apakah yang dibutuhkan?
  2. Oleh siapa?
  3. Kapan?
  4. Dimana?
  5. Dalam bentuk apa?
  6. Bagaimana cara memperolehnya?
  7. Dari mana asalnya?
  8. Bagaimana cara mengumpulkannya?

Proposal mengadakan analisis sistem ; Berisi:

 

  1. Definisi yang jelas dan konsisten tentang alasan untuk analisis
  2. Definisi batasan analisis yang akan dilakukan
  3. Identifikasi fakta yang akan dikumpulkan dan dipelajari selama analisis
  4. Identifikasi sumber dimana fakta dapat diperoleh
  5. Uraian tujuan dan kendala yang mungkin dalam analisis
  6. Proyeksi kemungkinan masalah yang akan terjadi selama analisis
  7. Jadwal tentatif analisis

 

Sumber-sumber fakta yang dapat dipelajari untuk analisis sistem:

  1. Sistem yang ada
  2. Sumber internal lain: orang, dokumen, dan hubungan antara orang-organisasi atau fungsi ada
  3. Sumber External: interface dengan sistem lain, seminar, vendor, jurnal, textbook dan informasi atau ilmu lain yang berada diluar sistem

Kerangka Analisis:

  1. Analisis terhadap level pembuat keputusan (manajemen organisasi): menganalisa organisasi, fungsi dan informasi yang dibutuhkan beserta informasi yang dihasilkan.
  2. Analisis terhadap flow informasi: mengidentifikasi informasi apa yang diperlukan, siapa yang memerlukan, dari mana asalnya.
  3. Analisis terhadap input dan output.

Dalam analisis ini digunakan teknik dan alat bantu, a.l: interview, questionaire, observation, sampling and document gathering, charting (organisasi, flow, dfd, ER, OO, dll), decision table and matric

Laporan hasil analisis:

Laporan hasil analisis harus berisi:

  1. Uraian alasan dan scope (batasan) analisis
  2. Deskripsi sistem yang ada dan operasinya.
  3. Uraian tujuan (objektif) dan kendala sistem
  4. Deskripsi tentang masalah-masalah yang belum teratasi dan potensi masalah
  5. Uraian tentang asumsi-asumsi yang diambil oleh analis sistem selama proses analisis
  6. Rekomendasi-rekomendasi sistem yang baru dan kebutuhannya untuk desain awal
  7. Proyeksi kebutuhan sumber daya dan biaya yang diharapkan termasuk dalam desain sistem baru atau memodifikasinya. Proyeksi ini termasuk kelayakan untuk proses selanjutnya.

Katagori aspek kelayakan:

  1. Kelayakan teknis: kelayakan perangkat keras dan perangkat lunak.
  2. Kelayakan ekonomi: apakah ada keuntungan atau kerugian, efisiensi biasa operasional organisasi.
  3. Kelayakan operasi: berhubungan dengan prosedur operasi dan orang yang menjalankan organisasi
  4. Kelayakan jadwal: dapat menggunakan model-model penjadwalan seperti PERT dan GANTT CHART. Apakah jadwal pengembangan layak atau tidak.

Hasil akhir analisis sistem (keputusan):

  1. Hentikan pekerjaan, karena proposal tidak layak.
  2. Tunggu beberapa saat, karena masih ada pertimbangan lain.
  3. Modifikasi, manajemen memutuskan untuk memodifikasi prososal dengan subsistem lain.
  4. Proses dengan syarat, ada persyaratan kelayakan.
  5. Proses tanpa syarat, semua syarat terpenuhi. Proposal diterima dan proses dilanjutkan ke desain awal

PERANCANGAN SISTEM

Analisis sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan what? Sedangkan desain digunakan untuk menjawab pertanyaan how? Desain berkonsentrasi pada bagaimana system dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase analisis.

 

Elemen-elemen pengetahuan yang berhubungan dengan proses desain:

  1. Sumber daya organisasi: bertumpu pada 5 unsur organisasi, yaitu: man, machines, material, money dan methods.
  2. Informasi kebutuhan dari pemakai: informasi yang diperoleh dari pemakai selama fase analisis sistem.
  3. Kebutuhan sistem: hasil dari analisis sistem.
  4. Metode pemrosesan data, apakah: manual, elektromechanical, puched card, atau computer base.
  5. Operasi data. Ada beberapa operasi dasar data, a.l: capture, classify, arrange, summarize, calculate, store, retrieve, reproduce dan disseminate.
  6. Alat bantu desain, seperti: dfd, dcd, dd, decision table dll.

Langkah dasar dalam proses desain:

1. Mendefinisikan tujuan sistem (defining system goal), tidak hanya berdasarkan informasi pemakai, akan tetapi juga berupa telaah dari abstraksi dan karakteristik keseluruhan kebutuhan informasi sistem.

2. Membangun sebuah model konseptual (develop a conceptual model), berupa gambaran sistem secara keseluruhan yang menggambarkan satuan fungsional sebagai unit sistem.

3. Menerapkan kendala2 organisasi (applying organizational contraints). Menerapkan kendala-kendala sistem untuk memperoleh sistem yang paling optimal. Elemen organisasi merupakan kendala, sedangkan fungsi-fungsi yang harus dioptimalkan adalah: performance, reliability, cost, instalation schedule, maintenability, flexibility, grouwth potensial, life expectancy. Model untuk sistem optimal dapat digambarkan sebagai sebuah model yang mengandung: kebutuhan sistem dan sumber daya organisasi sebagai input; faktor bobot terdiri atas fungsi-fungsi optimal di atas; dan total nilai yang harus dioptimalkan dari faktor bobot tersebut.

4. Mendefinisikan aktifitas pemrosesan data (defining data processing activities).

Pendefinisian ini dapat dilakukan dengan pendekatan input-proses-output. Untuk menentukan hal ini diperlukan proses iteratif sbb:

  • Mengidentifikasn output terpenting untuk mendukung/mencapai tujuan sistem (system’s goal)
  • Me-list field spesifik informasi yang diperlukan untuk menyediakan output tersebut
  • Mengidentifikasi input data spesifikik yang diperlukan untuk membangun field informasi yang diperlukan.
  • Mendeskripsikan operasi pemrosesan data yang diterapkan untuk mengolah input menjadi output yang diperlukan.
  • Mengidentifikasi elemen input yang menjadi masukan dan bagian yang disimpan selama pemrosesan input menjadi output.
  • Ulangi langkah a-e terus menerus samapi semua output yang dibutuhkan diperoleh.
  • Bangun basis data yang akan mendukung efektifitas sistem untuk memenuhi kebutuhan sistem, cara pemrosesan data dan karakteristik data.
  • Berdasarakan kendala-kendala pembangunan sistem, prioritas pendukung, estimasi cost pembangunan; kurangi input, output dan pemrosesan yang ekstrim
  • Definisikan berbagai titik kontrol untuk mengatur aktifitas pemrosesan data yang menentukan kualitas umum pemrosesan data.
  • Selesaikan format input dan output yang terbaik untuk desain sistem.

5. Menyiapkan proposal sistem desain. Proposal ini diperlukan untuk manajemen apakah proses selanjutnya layak untuk dilanjutkan atau tidak. Hal-hal yang perlu disiapkan dalam penyusunan proposal ini adalah

  • Menyatakan ulang tentang alasan untuk mengawali kerja sistem termasuk tujuan/objektif khusus dan yang berhubungan dengan kebutuhan user dan desain sistem.
  • Menyiapkan  model yang sederhana akan tetapi menyeluruh sistem yang akan diajukan.
  • Menampilkan semua sumber daya yang tersedia untuk mengimplementasikan dan merawat sistem.
  • Mengidentifikasi asumsi kritis dan masalah yang belum teratasi yang mungkin berpengaruh terhadap desain sistem akhir.

Sedangkan format dari proposal desain ini sangat berfariasi akan tetapi mengandung hal-hal di atas.

 

Prinsip Dasar Desain

Ada 2 prinsip dasar desain, a.l:

  1. Desain sistem monolitik. Ditekankan pada integrasi sistem. Resource mana yang bisa diintegrasikan untuk memperoleh sistem yang efektif terutama dalam cost.
  2. Desain sistem modular. Ditekankan pada pemecahan fungsi-fungsi yang memiliki idependensi rendah menjadi modul-modul (subsistem fungsional) yang terpisah sehingga memudahkan kita untuk berkonsentrasi mendesain per modul. Sebuah sistem informasi dapat dipecah menjadi 7 subsistem fungsional, a.l: data collection, data processing, file update, data storage, data retrival, information report dan data processing controls.

 

Petunjuk umum dalam desain subsistem fungsional sebuah sistem informasi:

  1. Sumber data sebaiknya hanya dikumpulkan sekali sebagai input ke sistem informasi.
  2. Akurasi sumber data sangat tergantung pada banyaknya langkah untuk me-record, collect dan prepare data untuk prosessing. Semakin sedikit langkah semakin akurat.
  3. Data yang  dihasilkan dari sistem berbasis komputer sebaiknya tidak dimasukkan lagi ke sistem.
  4. Pewaktuan yang diperlukan untuk mengumpulkan data harus lebih kecil dari pewaktuan informasi tersebut diperlukan.
  5. Perlu pemilihan cara pengumpulan data yang paling optimal
  6. Pengumpulan data tidak harus on-line, melainkan tergantung dari kebutuhan informasi.
  7. Semua sumber data harus dapat di validasi dan diedit segera setelah di kumpulkan.
  8. Data yang sudah divalidasi, sebaiknya tidak divalidasi pada proses selanjutnya.
  9. Total kontrol harus segera di cek lagi sebelum dan sesudah sebuah aktifitas prosesing yang besar dilakukan.
  10. Data harus dapat disimpan hanya di 1 tempat dalam basis data kecuali ada kendala sistem.
  11. Semua field data sebaiknya memiliki prosedur entri dan maintenance.
  12. Semua data harus dapat dicetak dalam format yang berarti untuk keperluan audit.
  13. File transaksi harus di maintain paling tidak dalam 1 siklus update ke basis data.
  14. Prosedur backup dan security harus disediakan untuk semua field data.
  15. Setiap file non sequential perlu memiliki prosedur reorganisasi secara periodik.
  16. Semua field data harus memiliki tanggal update/akses penyimpanan terakhir.

 

Untuk menganalisa sistem secara efektif, kita membutuhkan lebih dari sekedar perangkat permodelan; yaitu metode. Metode ini dari waktu ke waktu berubah sesuai dengan perkembangan teknologi. Siklus ini cenderung menglami perubahan yang berarti dengan ditemukannya bahasa generasi keempat dan terakhir generasi kelima dimana pendekatan dengan paradigma object-oriented dan kompatibilitas antar model.

Pada dasarnya ada dua metode pendekatan dalam membangun sistem, yang pertama yaitu top-down. Pada metode ini sistem yang diturunkan dari pemetaan secara global yang kemudian akan menurun ke arah yang lebih deskriptif. Metode ini dianalogikan sebagai pembuatan rumah yang dimulai dari aspek yang paling mendasar yaitu pondasi hingga ke bagian terkecil misalnya sebuah kran pada kamar mandi. Metode kedua yaitu bottom-up, dimana sistem dipetakan dari satuan terkecil sehingga ke satuan terbesar, misalnya perakitan mobil. Pada awal 1980_an mulai dikenal teknik pendesainan terstruktur dengan menggunakan konsep pararel dan siklus, misalnya antara uji coba program dan pemrograman dapat dilakukan kerja pararel dan seandainya ada sesuatu yang salah ketika implementasi maka dilakukan survey, analisa dan desain ulang yang menggantikan metode pendesainan klasik yang cenderung serial.

Pada prinsipnya aktivitas pendesainan sistem secara terstruktur melingkupi :

  • Survey ; berfungsi untuk mengetahui kebutuhan pemakai, kesalahan-kesalahan dalam sistem lama, menetapkan tujuan perancangan, mengajukan usulan otomasi sistem yang layak dan dapat diterima, dan menyiapkan laporan survey yang berisi tentang segala sesuatu, pada poin di atas.
  • Analisa sistem ; menggabungkan laporan survey dan kebijakan pemakai menjadi spesifikasi yang terstruktur dengan menggunakan permodelan.
  • Desain ; mengimplementasikan model yang diinginkan pemakai.
  • Implementasi ; merepresentasikan hasil desain ke dalam pemograman.
  • Uji coba desain ; menguji coba seluruh spesifikasi terstruktur.
  • Testing akhir ; menguji sistem secara keseluruhan.
  • Deskripsi prosedur ; pembuatan laporan teknis tertulis seperti petunjuk pemakaian dan pengoperasian.
  • Konversi database ; mengkonversi data, soalnya kata data sudah berarti jamak pada sistem sebelumnya.
  • Instalasi ; aspek terakhir yang mesti dilakukan mencakup, serah terima manual, perangkat keras dan pelatihan pemakaian.

 

Pada dasarnya ada dua metode pendekatan dalam membangun sistem, yaitu :

v    Top-down. Pada metode ini sistem yang diturunkan dari pemetaan secara global yang kemudian akan menurun ke arah yang lebih deskriptif. Metode ini dianalogikan sebagai pembuatan rumah yang dimulai dari aspek yang paling mendasar yaitu pondasi hingga ke bagian terkecil misalnya sebuah kran pada kamar mandi.

v     Bottom-up, dimana sistem dipetakan dari satuan terkecil sehingga ke satuan terbesar, misalnya perakitan mobil.

 

Pada prinsipnya aktivitas pendesainan sistem secara terstruktur melingkupi :

  • Survey ; berfungsi untuk mengetahui kebutuhan pemakai, kesalahan-kesalahan dalam sistem lama, menetapkan tujuan perancangan, mengajukan usulan otomasi sistem yang layak dan dapat diterima, dan menyiapkan laporan survey yang berisi tentang segala sesuatu, pada poin di atas.
  • Analisa sistem ; menggabungkan laporan survey dan kebijakan pemakai menjadi spesifikasi yang terstruktur dengan menggunakan permodelan.
  • Desain ; mengimplementasikan model yang diinginkan pemakai.
  • Implementasi ; merepresentasikan hasil desain ke dalam pemograman.
  • Uji coba desain ; menguji coba seluruh spesifikasi terstruktur.
  • Testing akhir ; menguji sistem secara keseluruhan.
  • Deskripsi prosedur ; pembuatan laporan teknis tertulis seperti petunjuk pemakaian dan pengoperasian.
  • Konversi database ; mengkonversi data, soalnya kata data sudah berarti jamak pada sistem sebelumnya.
  • Instalasi ; aspek terakhir yang mesti dilakukan mencakup, serah terima manual, perangkat keras dan pelatihan pemakaian.

TIM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

  •    Pemakai Akhir (end-user)

Orang yang memakai system informasi atau informasi yang dihasilkan system informasi. Dalam organisasi,pemakai internal dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. Staf
  2. Manajer tingkat rendah
  3. Manajer tingkat menengah
  4. Manajer tingkat atas, dan
  5. Pekerja berpengetahuan
  •    Spesialis teknologi informasi

Orang yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan operasi dan pengembangan system informasi. Umumnya orang2 ini berada dibawah bagian atau departemen Pengolahan Data Elektronik (PDE).

Tugas Personil yang berperan dalam pengembangan dan operasi system informasi :

1. Operator, bertugas mengoperasikan komputer dan peralatan pendukung

2. Analis Sistem (System Analyst), bertugas sebagai antarmuka antara pemakai informasi dan system informasi.Bertanggung jawab menerjemahkan kebutuhan pemakai menjadi rancangan basis data dan aplikasi

3. Pemrogram Aplikasi (Application Programmer), bertugas membuat suatu aplikasi (program komputer) yang dibuat berdasarkan spesifikasi yang dibuat oleh analis sistem.

4. Analis Pemrogram(Analyst / Programmer), bertugas sebagai pemrogram dan sekaligus analis system.

5. Pemrogram system (System Programmer), mempunyai tugas khusus yaitu membuat program yang berhubungan dengan operasi internal komputer dan periferal.

6. Administrator Basis Data (Database Administrator / DBA), bertanggung jawab terhadap struktur data dalam basis data yg digunakan dalam organisasi.

7. Teknisi Komunikasi Data / Spesialis Komunikasi Data, bertanggung jawab terhadap masalah komunikasi data dan jaringan computer

8. Teknisi Perawatan Sistem, bertanggung jawab terhadap kelangsungan operasi perangkat keras.Disebut juga hardware engineer.

9. Webmaster, bertangung jawab terhadap halaman web yang dimiliki organisasi.

  1. Auditor PDE (EDP Auditor), bertanggung jawab memastikan bahwa sistem informasi yang berbasis komputermemenuhi azas2 akuntansi dan pengauditan sehingga keamanan data dalam sistem terjamin.